Page 191 - Portofolio_Fajar Rachman 2024-2026
P. 191

a)   Jenis Kelamin
                             Sebagian     besar   responden     berjenis   kelamin    laki-laki (65%),
                        sedangkan perempuan (35%). Dominasi guru laki-laki menggambarkan
                        pola umum di madrasah yang masih berorientasi pada bidang keagamaan
                        dan bahasa Arab, yang secara historis banyak diampu oleh tenaga
                        pendidik laki-laki. Namun, keterlibatan guru perempuan yang cukup
                        signifikan   memperlihatkan      adanya     keseimbangan       peran     dalam
                        membangun lingkungan belajar yang inklusif dan empatik.
                             Menurut Tilaar (2000), keragaman gender di lingkungan pendidikan
                        berpengaruh terhadap dinamika sosial pembelajaran, karena laki-laki dan
                        perempuan cenderung menampilkan gaya kepemimpinan dan pengajaran
                        yang saling melengkapi dalam membentuk karakter siswa.
                        b)   Usia Responden
                             Sebagian besar responden berada pada usia produktif 30–40 tahun
                        (45%), diikuti oleh kelompok <30 tahun (30%), 41–50 tahun (20%),
                        dan >50 tahun (5%). Sebaran ini menunjukkan bahwa guru madrasah
                        memiliki potensi produktivitas dan kreativitas tinggi dalam menjalankan
                        peran profesional dan sosial.
                             Sejalan dengan pendapat Uno (2012), usia produktif pada guru
                        berkorelasi positif dengan tingkat semangat mengajar, kemampuan
                        adaptasi terhadap inovasi pendidikan, serta keterlibatan dalam kegiatan
                        sosial dan keagamaan di lingkungan sekolah.
                        c)   Lama Mengajar
                             Berdasarkan masa kerja, guru dengan pengalaman mengajar 5–10
                        tahun (35%) dan >10 tahun (35%) memiliki proporsi yang sama dengan
                        guru <5 tahun (30%). Hal ini menunjukkan keseimbangan antara tenaga
                        pendidik berpengalaman dan generasi baru yang dinamis.
                             Menurut Mulyasa (2013), keberagaman pengalaman mengajar
                        merupakan faktor penting dalam pengembangan kultur profesional di
                        sekolah, di mana guru senior berperan sebagai pembimbing dan teladan,
                        sedangkan guru muda menjadi sumber inovasi dan semangat perubahan.
                        d)   Bidang Pelajaran Utama
                             Sebagian besar guru mengampu mata pelajaran Bahasa Arab (50%)
                        dan Pendidikan Agama Islam (40%), sedangkan sisanya mengajar
                        Matematika (5%) dan IPS (5%). Komposisi ini menunjukkan orientasi
                        madrasah terhadap penguatan kompetensi keagamaan dan bahasa, yang
                        sejalan dengan visi lembaga pendidikan Islam.
                             Dalam pandangan Azra (2012), pendidikan Islam di Indonesia
                        berperan tidak hanya dalam transfer ilmu agama, tetapi juga dalam
                        pembentukan karakter sosial, moral, dan spiritual siswa. Oleh karena itu,
                        peran   guru    agama     dan   bahasa    Arab    menjadi    strategis   dalam
                        menanamkan nilai-nilai filantropi seperti wakaf dan hibah.
                        e)   Keterlibatan dalam Kegiatan Sosial Madrasah
                             Sebanyak 75% guru pernah terlibat dalam kegiatan sosial madrasah
                        seperti bakti sosial, penggalangan dana, atau program wakaf dan hibah
                        pendidikan, sedangkan 25% belum terlibat secara langsung. Tingginya
                        tingkat partisipasi sosial ini menunjukkan bahwa guru madrasah tidak
                        hanya berfungsi sebagai pendidik formal, tetapi juga sebagai agen moral


                                                                                                     24
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196