Page 108 - Stabilitas Edisi 189 Tahun 2022
P. 108
kOLOM
Syarif Fadilah
Pemimpin Redaksi Majalah STABILITAS
Gairah dan itu tidak tepat sasaran. Subsidi itu lebih
banyak dinikmati oleh orang-orang
berpendapatan menengah ke atas. Alasan
Kekhawatiran yang sudah digaungkan pemerintah sejak
kenaikan harga BBM sejak 2014 lalu.
Kini rakyat harus menerima
kenyataan bahwa harga bensin naik
ra baru tampaknya sudah dan mereka harus mengeluarkan uang
menjelang. Cahaya yang lebih banyak untuk mengisi tangki
selama lebih dari dua tahun kendaraannya. Seperti biasa di Indonesia,
Ebelakangan ini diimpikan kenaikan harga bensin akan merangsang
tampaknya sudah mulai terlihat di ujung harga-harga kebutuhan pokok lainnya
terowongan gelap. untuk naik, termasuk barang-barang
Masa-masa baru yang akan dihadapi yang tidak ada hubungannya dengan
setelah menjalani pandemi tampaknya bahan bakar minyak.
hanya tinggal menunggu waktu saja Pada akhirnya rakyat harus
untuk segera dijalani. Dua tahun lalu kebijakan untuk merespons mengeluarkan uangnya lebih banyak
ketika wabah Covid-19 memasung pemulihan yang kerap disebut lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
kehidupan orang banyak, banyak pakar normalisasi, tentu demi Pada akhirnya rakyat harus menghadapi
yang memprediksi bahwa dunia akan kepentingan mereka sendiri, situasi lebih sulit dari sebelumnya. Tapi
segera menghadapi apa yang dinamakan ekonomi menghangat. Suku rakyat pasrah, tentu karena tidak bisa
new normal, ada yang menyebut juga bunga yang terdongkrak hingga berbuat lebih dari itu.
next normal. Intinya adalah kehidupan harga-harga komoditas dan Namun, di sisi lain, pemerintah
yang baru, yang benar-benar berbeda minyak dunia yang bergejolak tetap mempertahankan proyek Ibu Kota
dari kehidupan yang kita jalani selama pada akhirnya membuat Negara Baru, Jalan Tol, dan Kereta
berdekade-dekade sebelumnya. ekonomi global diprediksi Cepat Jakarta-Bandung. Ini tentu aneh.
Banyak orang antusias kembali akan tersandung resesi. Untuk mensubsidi rakyat pemerintah
menghadapinya tapi sekaligus hati-hati. Ironisnya di Indonesia merasa keberatan karena mengaku
Karena sesuatu yang baru itu lazimnya muncul ancaman lain yang tidak memiliki uang, lalu kenapa tidak
selalu membuat gairah tapi sekaligus juga sama bahayanya dengan resesi menunda proyek-proyek raksasa itu.
menyimpan kekhawatiran. Gairah karena di negara lain. Bukan berarti Desakan itu sudah banyak disuarakan
akan menjalani sesuatu yang belum Indonesia akan terhindar dari oleh pengamat dan perwakilan
pernah dialami sebelumnya. Khawatir terkena resesi yang banyak masyarakat sipil. Menurut mereka,
karena kemungkinan yang muncul ketika diprediksi terjadi tahun depan. pembangunan ini tak akan dinikmati
masa-masa yang baru itu justru membuat Namun demikian pukulan telak langsung oleh masyarakat miskin. Alih-
kehidupan lebih rumit. sudah diterima oleh rakyat alih, pembangunan proyek-proyek
Untuk meredakan kekhawatiran, ketika pemerintah menaikkan tersebut menambah beban negara
sebagian orang menciptakan perisai- harga bensin, sekaligus yang akan mengurangi belanja untuk
perisai dan pengaman-pengaman untuk memangkas subsidi untuk kebutuhan lain, seperti bantuan yang
menyambut era baru itu. Siasat untuk rakyat. Subsidi yang didapat oleh langsung menyasar masyarakat miskin.
menghindari kemungkinan terburuk atau rakyat dengan harga bensin yang Pemerintah seharusnya bisa memilih
setidaknya membuat diri lebih tenang. lebih murah dari harga yang prioritas kebijakan yang benar-benar
Akan tetapi kenyataan datang lebih berlaku di pasar internasional menyentuh orang banyak, terutama
buruk dari perkiraan. Belum lagi era baru sudah dipangkas. mereka yang berpendapatan menengah
pasca pandemi datang, sesuatu yang ta Alasan laten yang disebutkan ke atas. Jika tidak, maka perasaan
kalah mengancam membonceng. Setelah pemerintah adalah subsidi yang rakyat yang akan muncul lebih banyak
banyak negara yang langsung melakukan dilakukan terkait harga bensin kekhawatiran ketimbang gairah..*
108 Edisi 189 / 2022 / Th.XVIII www.stabilitas.id

