Page 154 - Generasi Muda Reforma Agraria
P. 154
Kumpulan Naskah Esai Terbaik Pada Lomba Esai Agraria 133
2010). Laju erosi dalam pertanian intensif tiga kali lebih tinggi
dibandingkan dengan pertanian biasa dan 75 kali lebih tinggi
dibandingkan laju erosi alami (Montgomery 2007). Dalam
jangka panjang, tanah yang sudah mengalami erosi kehilangan
unsur haranya sehingga menjadi tidak produktif. Tanah yang
sudah tidak produktif akan ditinggalkan sehingga jumlah
tanah yang tersedia untuk pertanian akan semakin berkurang
(Bakker dkk 2005). Boardman (2006) memperkirakan bahwa
dengan laju kerusakan yang ada, lahan pertanian yang tersedia
untuk setiap individu akan berkurang dari tahun ke tahun.
Dampak negatif yang diakibatkan oleh Revolusi Hijau
dapat dirasakan di wilayah Asia Tenggara yang mayoritas
penduduknya berprofesi sebagai petani (Martawijaya dan
Montgomery, 2004). Indonesia, sebagai salah satu negara
yang mengadopsi Revolusi Hijau, merasakan dampak negatif
dari Revolusi Hijau. Beberapa studi di Indonesia menunjukan
bahwa pestisida dan pupuk buatan digunakan secara
berlebihan sehingga kesuburan tanah dan aktiitas or
tanah menurun (Moeskops dkk 2010, Kimura dan Salam
2003). Kualitas tanah secara umum berkurang, terutama di
Pulau Jawa (Lukas 2014).
Dampak dari penurunan kualitas tanah adalah
menurunnya produktivitas lahan pertanian sehingg
hasil panen akan menurun seiring dengan menurunnya
kualitas tanah. Selama tahun 2000 sampai 2010, produksi
padi Indonesia hanya meningkat rata-rata 2.5% per tahun
sedangkan nilai impor berasa selama kurun waktu yang sama
meningkat rata-rata 25% per tahun (Hadi, dkk 2010).

