Page 118 - Resonansi Landreform Lokal di Karanganyar: Dinamika Pengelolaan Tanah di Desa Karanganyar
P. 118
Resonansi Landreform Lokal ... 105
Berdasarkan pengalaman Desa Karanganyar, maka kemis-
kinan terjadi ketika masyarakat gagal mendapatkan akses atas
tanah. Kegagalan itu selayaknya dicegah dengan memberi hak
garap atas tanah kepada petani yang tidak memiliki tanah. Bila
itu dapat dilakukan, maka tanah telah menjadi asset dalam
menghasilkan produk pertanian, yang sekaligus berarti pening-
katan kesejahteraan bagi para penggarap tanah. Agar para peng-
garap dapat hidup semakin sejahtera, maka mereka perlu melek
finansial atau sadar keuangan, di mana mereka mampu menge-
lola uangnya dengan baik sehingga mampu mendukung
kegiatannya sebagai petani. Dengan demikian para penggarap
dapat keluar dari vicious circle of poverty (lingkaran setan
kemiskinan).
Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan hidup
lebih sejahtera, sebagian anggota masyarakat Desa Karanganyar
telah berkenan meninggalkan pemikiran, sikap, tindakan dan
perilaku yang dogmatik, irasional, dan konsumtif. Mereka ber-
kenan merubah pemikiran, sikap, tindakan dan perilakunya
menjadi lebih rasional, memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin
terhadap waktu, hemat, kompetitif, bekerja keras, produktif,
mandiri dan kreatif. Secara sosiologis kondisi ini biasa dikenal
dengan sebutan “modern” dalam artian yang positif.
Modernitas yang berkembang evolusioner sejak tahun 1947
sampai dengan sekarang telah membawa berkah bagi 76 keluarga
petani yang tidak memiliki tanah sawah, yang kemudian dapat
menggarap tanah sawah seluas 90 ubin. Meskipun untuk itu
para penggarap ini (buruh kulian) wajib melakukan kerja bakti
dan ronda malam. Tetapi itulah bagian dari “pembagian kerja”
yang dilakukan antara kulian, buruh kulian, dan Pemerintah
Desa Karanganyar. Pembagian kerja ini tidaklah terjadi secara

