Page 245 - Reforma Kelembagaan dan Kebijakan Agraria (Hasil Penelitian Strategis STPN 2015)
P. 245

230   Reforma Kelembagaan dan Kebijakan Agraria


























                        Gambar 4. Perubahan Landscape Pasca Tambang
                            Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti, 2015

                Gejolak rasa ketidakpuasan tampak nyata dari perbincangan dengan
            warga.  Mulai dari  dana  kesejahteraan  yang  tidak  transparan, dugaan

            manipulasi dan korupsi yang dilakukan oleh pihak perusahaan dan forum
            desa, kecurigaan-kecurigaan adanya kolusi yang merugikan masyarakat,
            pemalsuan identitas (KTP) penerima bantuan adalah beberapa persoalan
            yang muncul. Ketidakpuasan pun nampaknya hanya tinggal ketidakpuasan.
            Demo secara terbuka tidak mungkin dilakukan langsung ke perusahaan
            karena bagaimanapun  sebagian besar  sumber  penghasilan  warga juga
            bergantung  pada  perusahaan. Dusun  yang  terletak  tidak kurang  dari  1

            km  dari  lokasi  penambangan ini,  tampaknya  sedang berhitung  dengan
            kerugian yang semakin hari semakin besar mereka rasakan akibat hadirnya
            tambang.

                Maridi datang ke Kutai tahun 1987. Dari daerah asalnya di Jember,
                Maridi  mengadu nasib ke Kutai hingga  saat ini menjadi  petani
                sekaligus karyawan  di  perusahaan  tambang. Saya menjumpai  pak
                Maridi di rumahnya siang itu. Sebagaimana dituturkannya tambang
                sudah beroperasi  selama 6  tahun.  Sebelum  tambang masuk  dan
                beroperasi, Maridi  sehari-hari bertani  sayur. Setelah bekerja  di
                tambang,  Maridi  hanya  bisa  bertani saat tidak  bekerja  (libur) dari
                tambang.  Maridi tidak  memiliki tanah.  Tanah  yang  ditanaminya
                sekarang dipinjamnya, bagi hasil dengan pemilik dengan perhitungan
   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250