Page 142 - Penegakan Hukum Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar
P. 142

BAB VI

                                      PENUTUP




                 Putusan peradilan tata usaha negara yang menguji keabsahan/
            legalitas suatu produk pejabat tata usaha negara dalam bentuk suatu
            Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) terhadap norma-norma dasarnya
            lebih    difokuskan    pada    pengujian  dari  segi  formal  dan  prosedur
            penetapannya saja, daripada mempersoalkan substansi yang terkandung
            dalam kaidah hukumnya.
                 Pengujian keabsahan/legalitas keputusan penetapan tanah terlantar
            dalam praktek hukum oleh Hakim dalam memutus sengketa tanah
            terlantar cenderung mengunakan cara berfikir positivisme hukum, Hakim
            hanya mengunakan cara tektual peraturan perundangan-undangan
            belaka, Hakim memeriksa dan memutus berdasarkan prosedur/tatacara
            sebagaimana diatur dalam teks peraturan. Praktek seperti ini memang
            tidak keliru dikarenakan positivisme hukum memberikan arti kepastian
            hukum. Namun unsur keadilan dan kemanfaatan hukum seolah-olah
            diabaikan, karena di dalam putusannya Hakim hanya menerapkan
            undang-undang dan hasilnya adalah kebenaran formal.

                 Banyaknya  putusan PTUN yang membatalkan  penetapan
            tanah terlantar terkesan masih berkutat dalam aspek prosedural yang
            mengakibatkan penertiban tanah terlantar menjadi kurang atau
            bahkan tidak  mampu menyelesaikan  inti persoalan  sebenarnya yaitu
            ketimpangan penguasan tanah. Semestinya hakim tidak hanya melihat
            dari sisi prosedural saja, tetapi juga harus melihat secara substantifnya.
                 Salah satu hal penting dalam beracara di peradilan tata usaha
            negara adalah pemeriksaan setempat di sengketa untuk melihat secara
            subtantif apakah tanah tersebut benar-benar diterlantarkan. Karena
            rata-rata luasan tanah terlantar berjumlah ribuan hektar, maka dapat
            memanfaatkan drone dalam proses sidang pemeriksaan setempat. Proses
            pemeriksaan  setempat,  Majelis  Hakim  dan  para  pihak  hanya  perlu



                                                              BAB VI     Penutup  125
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147