Page 265 - Gerakan-gerakan Agraria Transnasional
P. 265

Mobilisasi yang Lamban

               mungkin ironisnya – adalah orang-orang yang paling kecil
               kemungkinannya untuk memenangkan akses atas tanah
               saat pemerintah mengalihkan properti (Rosa 2007).
               Pemerintah secara legal terikat untuk memprioritaskan
               keluarga daripada orang-orang dewasa atau pemuda yang
               belum menikah. Karena itulah para pemuda dan pemudi
               yang tidak memiliki pasangan atau anak dikirimkan dari
               satu okupasi ke okupasi yang lain dan meradikalisasi
               pandangan politik mereka dalam perjalanannya. Begitu
               direkrut, para pimpinan MST diharapkan bisa melakukan
               perjalanan ke manapun dan kapanpun demi gerakan dan
               perjuangan. Mobilitas politis ini membantu gerakan untuk
               memperluas keanggotaannya dari selatan ke bagian lain
               negara pada pertengahan tahun 90-an.
                    Sejalan dengan bertumbuhnya MST, perkembangan
               pimpinan-pimpinan muda seperti itu tetap menjadi prioritas
               gerakan. Hal ini terlihat dalam halaman-halaman yang
               dimuat koran MST sendiri, yang diterbitkan setiap bulan
               sejak akhir tahun 80-an. Sebuah kolom bulanan dalam
               Jornal Sem Terra (Koran Bagi Kaum Tak Bertanah) menyo-
               roti akarrumput yang mengorganisir para aktivis (mili-
               tantes) yang dilahirkan sendiri melalui wawancara dengan
               orang-orang yang berbeda setiap bulannya dari seluruh
               negeri. Semua aktivis tersebut memberi cerita yang serupa
               mengenai kontak awal mereka dengan gerakan, yaitu
               melalui partisipasi dalam okupasi atau demonstrasi, jatuh
               cinta pada gerakan, memanjat tangga kepemimpinan
               melalui pelatihan resmi oleh gerakan dan kemudian bekerja
               sebagai organiser. Melalui kerja para pimpinan inilah aksi
               langsung tetap menjadi strategi gerakan utama karena
               meskipun gerakan ini secara strategis semakin membesar,
               para pimpinan tadi masih terus bekerja secara lokal dalam
               perjuangan untuk memperoleh tanah, memobilisasi rakyat
               untuk melakukan okupasi, mengorganisir pemukiman-
               pemukiman, serta merekrut dan melatih pimpinan-


                                                                  251
   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270