Page 131 - Relasi Kuasa: Dalam Strategi Pertanahan di Desa Prigelan
P. 131

122   Aristiono Nugroho, Suharno, dan Tullus Subroto
            Tani II”,  yang kemudian  para  anggotanya memilih Sudarmono
            sebagai ketua Kelompok Tani “Karya Tani II”.
                Pembentukan kelompok tani memaksa para anggotanya (para
            petani)  untuk konsisten  dengan identitas  profesinya. Konsistensi
            membantu  para  petani  untuk  secara  bersama-sama  menangani
            persoalan  yang  terkait  dengan  pertanian, sehingga seluruh
            kepentingan para petani dapat disatukan. Ketika persoalan berhasil
            diatasi kebersamaan  tetap berlanjut,  sebagai langkah  persiapan
            menghadapi persoalan berikutnya.

                Konsistensi terhadap  identitas  profesi telah  diperlihatkan
            oleh Kelompok  Tani  “Karya  Tani  II”,  ketika kelompok  ini  ingin
            meningkatkan  hasil  dan  pendapatan  petani.  Kelompok  tani
            ini  selanjutnya berusaha menyalurkan berbagai bantuan  yang
            diterimanya melalui Gapoktan, misalnya bantuan benih. Sementara
            itu,  untuk kegiatan  organisasi, kelompok ini memperoleh
            keuntungan dari  penyaluran  bantuan  kepada anggotanya,  yang
            ditampung dalam bentuk kas, yang saat ini mencapai Rp. 4 juta.
            Kas ini digunakan untuk modal beli pupuk, obat-obatan, dan benih,
            yang selanjutnya dijual kembali kepada petani. Bila petani sedang
            kesulitan uang, mereka dapat mengambil pupuk, obat-obatan, dan
            benih pada  kelompok  tani,  yang  nantinya  dibayar  setelah panen.
            Untuk pupuk ukuran 1 bantal, kelompok tani mengambil untung
            sebesar Rp. 5.000,- yang dimasukkan ke kas kelompok tani.
                Selain konsistensi, hal  yang  perlu  diperhatikan  dalam konteks
            tindakan Kelompok Tani “Karya Tani II”, adalah kemampuan kelompok
            ini menjalankan  perannya. Kelompok ini menjalankan  perannya
            sebagai “pembela” kepentingan para petani, yang menjadi anggotanya.
            Peran ini berhasil “dimainkan”, karena Kelompok Tani “Karya Tani II”
            mampu memikul tanggungjawab, dan tidak terperangkap dalam peran
            yang tidak diinginkan atau tidak dinikmatinya.
   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136