Page 193 - Relasi Kuasa: Dalam Strategi Pertanahan di Desa Prigelan
P. 193
184 Aristiono Nugroho, Suharno, dan Tullus Subroto
Oleh karena kepentingan petani terlindungi atas adanya
larangan bagi orang dari luar Desa Prigelan membeli bidang tanah
di desa ini, maka fenomena ini juga layak “dibaca” sebagai bentuk
strategi pemilikan tanah dalam menata tindakan dan perilaku.
Strategi pemilikan tanah menjalankan fungsinya sebagai instrumen
kontrol atas bidang-bidang tanah di Desa Prigelan, dengan
membangun relasi timbal balik antar petani, dan antara petani
dengan bidang tanah, serta motif yang menyertainya. Instrumen
kontrol ini berkaitan dengan ekonomi, karena meliputi aksesibilitas
petani terhadap sumber-sumber ekonomi. Dengan kata lain petani
didorong untuk melakukan exploitasi sumberdaya alam (tanah),
sehingga mampu memberi hasil produksi yang relevan dengan
kebutuhannya. Meskipun tetap harus diakui adanya keterbatasan
petani dalam mengelola atau menggarap tanahnya.
Persetujuan petani Desa Prigelan atas penerapan strategi
pemilikan tanah (larangan bagi orang dari luar Desa Prigelan
membeli bidang tanah di desa ini) menunjukkan kemanfaatan
strategi ini bagi mereka. Sementara itu diketahui, bahwa strategi
pemilikan tanah dapat digolongkan sebagai teknologi sosial, yang
mampu memberi treatment agar petani memiliki kesempatan
menggarap tanah. Boleh jadi ada teknologi sosial yang lebih maju
agar petani memiliki kesempatan menggarap tanah, tetapi untuk
saat ini teknologi sosial yang berupa strategi pemilikan tanah sudah
cukup memadai bagi petani di Desa Prigelan.
Teknologi sosial yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan
pada petani agar dapat menggarap tanah, berperan sebagai pengatur
tindakan dan perilaku masyarakat. Ketika strategi pemilikan tanah
(teknologi sosial) mulai “dijalankan” segenap pihak yang terkait
mengikutinya, bahkan bersedia mengganti tindakan dan perilaku
yang bertentangan dengan strategi pemilikan tanah. Oleh karena

