Page 247 - Ecotourism Lereng Merapi Pasca Konsolidasi Tanah
P. 247
234 Aristiono Nugroho dan Sutaryono
contoh dalam menangani daerah bencana.
Sebelum menyerahkan sertipikat hak atas tanah pada
peserta konsolidasi tanah di Lereng Merapi, Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional sempat
menghadiri acara Dies Natalis Sekolah Tinggi Pertanahan
Nasional yang ke-22. Saat orasi ilmiah di hadapan Sidang
Senat Terbuka, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional mengingatkan, agar Sekolah Tinggi
Pertanahan Nasional terus berkontribusi bagi kemajuan
bidang pertanahan. Salah satu kontribusinya telah ditunjukkan
melalui keterlibatannya secara aktif dalam konsolidasi tanah di
lereng Merapi, baik melalui penyuluhan dan sosialisasi bersama
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Daerah Istimewa
Yogyakarta, dan Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman, serta
pendataan dan pember hingga penyusunan pro dusun
yang diorientasikan untuk pengembangan ecotourism.
B. Ecotourism Sebagai Solusi
Kemajuan bidang pertanahan ditandai oleh responsivitas
BPN-RI dalam membantu masyarakat di bidang pertanahan,
sebagaimana konsolidasi tanah di Lereng Merapi. Telah
menjadi pengetahuan umum, bahwa konsolidasi tanah
merupakan “titik awal” untuk membangun kawasan, dan
sekaligus basis penghidupan bagi masyarakat. Oleh karena
sumberdaya yang ada di Lereng Merapi (wilayah konsolidasi
tanah) mampu mendukung kegiatan pariwisata, maka hal
paling rasional (logis) untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat setempat, adalah dengan melaksanakan

