Page 120 - Kembali ke Agraria
P. 120

Kembali ke Agraria

               sekarang ini menjadi trend erat kaitannya dengan strategi pem-
               bangunan perkotaan yang diskriminatif dan kenyataan kemiskinan
               itu sendiri sebagai akar persoalan. Fenomena penggusuran adalah
               anak kandung dari pembangunan dan kemiskinan di perkotaan.
                   Dalam konteks maraknya operasi “penertiban” pemukiman
               kaum miskin, pendekatan keamanan (security approach) kembali
               digunakan secara efektif oleh penguasa. Ini merupakan cermin dari
               pilihan strategi pembangunan kota yang melecehkan rasa kemanu-
               siaan dan keadilan bagi kaum kecil. Padahal, jika kita mau konsisten
               dan konsekwen dengan semangat zaman reformasi dan demokrasi,
               maka strategi semacam itu sudahlah usang dan ketinggalan zaman.
                   Yang membuat hati terenyuh, ketika seorang Gubernur membe-
               narkan penggusuran hanya gara-gara penduduk yang bersangkutan
               tidak memiliki kartu tanda penduduk kota setempat. Pembenaran ini
               terasa merendahkan martabat bangsa secara keseluruhan. Betapa
               yang namanya kebebasan warga untuk tinggal di mana saja di seluruh
               wilayah negaranya sendiri telah direduksi hanya menjadi urusan
               selembar surat keterangan. Alasan semacam ini, sekali lagi menun-
               jukkan sikap pemerintah yang sangat kaku dan tidak arif dalam
               memandang persoalan kebangsaan.
                   Pemerintah sudah semestinya memahami kemiskinan sebagai
               akar persoalan yang memaksa kaum miskin membangun dan tinggal
               di pemukiman kumuh. Sempitnya akses kaum miskin terhadap lahan
               untuk pemukiman di perkotaan mesti diakui sebagai buah dari orien-
               tasi pembangunan perkotaan yang pada umumnya lebih memanja-
               kaan kaum berduit. Kita tahu, peruntukan lahan di perkotaan lebih
               diprioritaskan untuk pengembangan kawasan bisnis, perkantoran,
               fasilitas umum, dan perumahan kelas menengah ke atas. Tapi kita
               juga tidak bisa menutup mata atas tingginya gejala penelantaran
               tanah di sekitar perkotaan. Sebagian lahan di kawasan kota Jabotabek
               telah dikuasai dan digunakan oleh pemodal besar sebagai objek
               spekulasi tanah. Kenyataan ini menjadi ironi yang gamblang di
               tengah kian terbatasnya akses kaum miskin kota atas lahan untuk


                                                                        101
   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125