Page 147 - Kembali ke Agraria
P. 147

Usep Setiawan

            kan oleh konflik-konflik agraria di satu sisi dapat membawa dijalan-
            kannya pembaruan agraria (menjadi alasan obyektif dan rasional),
            di sisi lain menentukan bentuk dan metode implementasi pembaruan
            sendiri.
                Konflik agraria mencerminkan keadaan tidak terpenuhinya rasa
            keadilan bagi kelompok masyarakat yang mengandalkan hidupnya
            dari tanah dan kekayaan alam lain, seperti kaum tani, nelayan, dan
            masyarakat adat. Bagi mereka, penguasaan atas tanah adalah syarat
            keselamatan dan keberlanjutan hidup. Namun, gara-gara konflik ag-
            raria, syarat keberlanjutan hidup itu porak-poranda.
                Komitmen politik untuk menyelesaikan segala konflik menjadi
            prasyarat yang tidak bisa ditawar. Dalam kerangka politik hukum,
            sebenarnya kita sudah punya Ketetapan MPR RI No IX/MPR/2001
            tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Ke-
            tetapan MPR ini dapat menjadi kerangka pokok upaya menyelesaikan
            aneka konflik agraria yang diwariskan rezim masa lalu yang telah
            dan masih berlangsung hingga kini.


            Membangun jembatan
                Dari macetnya penyelesaian konflik agraria selama ini, gagasan
            Komisi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria (KNuPKA)
            dikedepankan. Tetapi, pembentukan KNuPKA bukan tujuan akhir.
            Pembentukan KNuPKA adalah jembatan menuju pelaksanaan
            menyeluruh pembaruan agraria.
                Kita dapat mengacu Tap MPR No V/MPR/2003 tentang Saran
            kepada Lembaga-lembaga Negara. Dituangkan, “menyelesaikan ber-
            bagai konflik dan permasalahan di bidang agraria secara proporsional
            dan adil mulai dari persoalan hukum sampai dengan implementa-
            sinya di lapangan...”, serta: “Membentuk lembaga atau institusi
            independen lainnya untuk penyelesaian konflik agraria dan sumber-
            daya alam, agar memenuhi rasa keadilan kelompok petani, nelayan,
            masyarakat adat dan rakyat pada umumnya sehingga berbagai konflik
            dan kekerasan dapat dicegah dan ditanggulangi; mempercepat pem-


            128
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152