Page 154 - Kembali ke Agraria
P. 154
Sinar Harapan, 5 Oktober 2004
Kekayaan Alam di Tangan
Segelintir Orang
Menyongsong Konferensi Internasional
Penguasaan Tanah (1)
SU penguasaan tanah dan kekayaan alam bagi bangsa agraris
Isebesar Indonesia tidak akan pernah basi. Bahkan, dalam era peru-
bahan dewasa ini makin relevan dikedepankan. Sejak reformasi
(1998), telah terjadi perubahan-perubahan penting dalam tata kuasa
tanah dan kekayaan alam seperti hutan, tambang, air, laut, dan seba-
gainya. Perubahan konteks “siapa memiliki, menggunakan, menge-
lola, mengontrol akses, dan yang memperoleh manfaat atas tanah
dan kekayaan alam” perlu mendapat perhatian saksama semua
pihak.
Curahan pikiran dari pemerintahan maupun non-pemerintahan
di pusat dan daerah, baik dari belakang meja maupun di lapangan
tengah menjadi kebutuhan mendesak. Artikel ini ditulis untuk
menyongsong Konferensi Internasional tentang Penguasaan Tanah
(11-13 Oktober 2004). Bagian ini merupakan bagian pertama dari
dua tulisan, dengan fokus orientasi pembangunan yang berbuah:
kebijakan yang tumpang tindih, ketimpangan, konflik, kerusakan
lingkungan, serta perlunya rembuk bersama. Sejak rezim populis
Soekarno digantikan rezim kapitalis Soeharto, berbagai UU (1967
sampai 1997) terkait tanah dan kekayaan alam diberlakukan. Berbagai
135

