Page 162 - Kembali ke Agraria
P. 162

Sinar Harapan, 21 Oktober 2004








                        Dualisme Hukum atas Tanah
                                  Harus Diakhiri








                   EUSAI “Konferensi Internasional tentang Penguasaan Tanah dan
               SKekayaan Alam di Indonesia yang Sedang Berubah” (Jakarta,
               11-13 Oktober 2004), banyak hal bisa diangkat. Walau masalah dan
               solusi yang ditawarkan terbilang lagu lama, namun memang pantas
               dinyanyikan ulang. Bahkan lagu ini perlu dibunyikan keras kepada
               aktor baru pemegang kuasa negara. Tulisan ini adalah catatan kecil
               hasil konferensi tentang penguasaan tanah dan kekayaan alam itu.
                   Setiap panel diskusi dalam konferensi ini merefleksikan sejumlah
               rekomendasi. Dari panel yang dikelola KPA (isu konflik agraria);
               pembentukan Komisi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria
               (KNuPKA) perlu disegerakan. Namun KNuPKA bukanlah langkah
               akhir perjalanan penyelesaian konflik. Pembetukan KNuPKA meru-
               pakan simbol keberpihakan negara kepada rakyat yang mengalami
               penindasan. KNuPKA sebagai simbol kemenangan rakyat sekaligus
               awal pelaksanaan pembaruan agraria di Indonesia.
                   Dari panel HuMA (isu pluralisme hukum), untuk situasi seperti
               Indonesia, itikad untuk membuat sistem hukum atas tenurial yang
               unifikatif hanya boleh sepanjang pada level asas, bukan pada level
               norma. Negara bisa membuat hukum yang mengatur tenurial yang
               berfungsi sebagai payung, namun tiap komunitas memiliki hukum
               yang variatif. Sementara itu, dari Panel CIFOR (isu kehutanan),
               inisiatif masyarakat yang terbukti mampu mengelola hutan secara

                                           143
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167