Page 216 - Kembali ke Agraria
P. 216

Kembali ke Agraria

               disempurnakan, semangat populismenya masih tetap relevan di era
               sekarang.
                   Ketetapan MPR No IX Tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria
               dan Pengelolaan Sumber Daya Alam telah menugaskan kaji ulang
               peraturan perundang-undangan terkait agraria dan pengelolaan
               sumber daya alam—Pasal 5 (1a) dan (2a). Tap MPR ini juga meme-
               rintahkan pelaksanaan penataan ulang struktur penguasaan tanah
               (land reform) sehingga lebih adil sebagai inti reformasi agraria—Pasal
               5 (1b). Pembaruan agraria hendaknya mengacu Tap MPR No IX/
               2001, yang dikuatkan oleh Tap MPR No IV/2002, dikukuhkan Tap
               MPR No I/2003, dan ditegaskan Tap MPR No V/2003.
                   Hendaknya dilakukan kaji ulang kebijakan agraria dan penge-
               lolaan sumber daya alam. Penyempurnakan UUPA perlu dilakukan
               melalui format amendemen. Atas dasar hasil kaji ulang dan amen-
               demen UUPA maka masalah keagrariaan dapat diatasi dengan dasar
               hukum yang kuat, komprehensif, adil dan berkelanjutan. Perlu juga
               penyesuaian seluruh peraturan agraria dan sumber daya alam
               mengacu UUPA yang telah diamendemen itu. Penyusunan RUU
               Sumberdaya Agraria yang merombak total format dan isi UUPA, hen-
               daknya dihentikan. Mengupayakan penyempurnaan UUPA dalam
               format amandemen menjadi alternatif yang layak tempuh, sebagai-
               mana telah disepahami oleh sejumlah Fraksi di DPR yang beraudiensi
               dengan KPA (Mei-Juli 2005).
                   Sebagai mekanisme alternatif penyelesaian konflik agraria
               warisan masa lalu, perlu diupayakan terbentuknya Komisi Nasional
               untuk Penyelesaian Konflik Agraria (KNuPKA). Gagasan ini sudah
               dirumuskan Komnas HAM, bahkan sudah disampaikan langsung
               ke meja dua Presiden RI, di era Megawati Soekarnoputri (Juli 2004)
               dan Yudhoyono (Maret 2005). Hendaknya dirintis pula pembentukan
               Badan Otorita Reformasi Agraria (BORA) yang bertanggung untuk
               menyiapkan pembiayaan, kelembagaan, merumuskan rencana dan
               strategi reforma agraria. BORA juga mengoordinasi departemen dan
               badan pemerintahan terkait, termasuk Pemda dan organisasi


                                                                        197
   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221