Page 198 - MP3EI, Masterplan Percepatan dan Perluasan Krisis Sosial-Ekologis Indonesia
P. 198
188 Di Atas Krisis Sosial-Ekologis Semacam Apa
Megaproyek MP3EI Bekerja?
Latar Belakang
Sejak abad pertengahan, P. Timor sudah terhubung pada perdagangan regional dan global. Diawali dengan perdagangan lilin
lebah, madu, dan cendana. Ketiga bahan ini mengundang masuknya kolonialisme eropa yang diawali dengan jaman Portugis
dan kemudian diikuti dengan masuknya Kongsi Dagang Hindia Timur dari Belanda yang berlangsung hingga jaman orde baru
dengan perbagai dinamikanya. Pada permulaan abad ke 20 ini, perdagangan ternak mulai mewarnai hubungan dagang
antara Timor Barat dengan dunia di luarnya. Belanda secara sengaja memasukkan sapi bali dan memberikannya pada para
raja yang bersedia bekerja sama dengan Belanda pada tahun 1913 (Ormeling 1955). Sejak awal, Belanda telah menetap-
kan wilayah Timor sebagai produsen ternak untuk menyuplai kebutuhan daging di P. Jawa yang terpelihara hingga sekarang.
Proses interaksi Timor Barat dengan perdagangan dunia luar dan politik-ekonomi bahan global, kemudian memasuki babak
baru dengan merebaknya pertambangan yang diikuti dengan pertambangan marmer di penghujung 1990an, dan diikuti oleh
pertambangan mangan sejak tahun 2008. Dalam konteks perluasan ekonomi global yang saat ini dilegitimasi Master Plan
Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), perluasan infrastruktur di Timor Barat seperti jalan raya dan pem-
bangkit dapat mempercepat ekspansi ekonomik yang berujung pada percepatan kerusakan sosial-ekologis yang tengah
terjadi bahkan jauh sebelum master plan ini ditetapkan.
Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengidamkan proses pertumbuhan yang mengandalkan ekspor. Bahan tambang dilihat seba-
gai salah jatu jalan keluar utama untuk mengangkat derajat propinsi NTT dari stigma propinsi miskin dan terbelakang. Tetapi,
logika utama pertumbuhan yang berujung pada akumulasi kekayaan pada segelintir orang dan pemerkosaan terhadap alam
yang mendukung stabilitas sosial-ekologis NTT khususnya Timor Barat yang rentan, tidak pernah menjadi pertimbangan da-
lam mengelola keselamatan rakyat Timor Barat dan keberlanjutan fungsi-fungsi alam yang menyokongnya.
Studi ini bukanlah sebuah studi proyeksi dampak sosial ekologis atas rencana perluasan infrastruktur dalam kerangka
MP3EI. Studi ini, ingin menunjukkan perubahan-perubahan sosial-ekologis termutakhir yang berlangsung di Timor Barat
terutama terkait ekstraksi dengan bahan tambang yang boleh jadi komoditi yang disokong oleh perluasan infrastruktur di
Timor Barat.
Pertambangan bahan mineral komoditi global di Timor Barat ditandai dengan berlangsungnya pertambangan marmer pada
akhir 1990an, dan pertambangan mangan pada awal tahun 2000an. Batu marmer dan batu mangan, dahulunya tidak me-
miliki nilai ekonomis, tidak ditambang dan juga tidak laku dijual. Meskipun demikian, batu marmer yang terdapat pada
gunung-gunung batuan kapur di seantero Timor Barat, memiliki nilai sosial dan budaya. Gunung-gunung kapur di Timor Ba-
rat merupakan wilayah keramat yang menjadi simbol asal muasal orang Timor atau dikenal juga sebagai orang Meto
(Ataupah 1992; Ataupah 1995; Mcwilliam 2004). Orang Meto memiliki nama yang berakar dari gunung batu, mata air, dan
pohon-pohon besar. (Ataupah: 1996). Menurut Ataupah, hal ini tidak semata-mata mistis, karena ciri-ciri perkampungan tua
di Timor Barat berada di sekitar gunung batu yang di sekitarnya muncul mata air perenial. 1
Sementara untuk batuan mangan dahulunya dikenal sebagai batu hitam. Batu hitam, atau fatu metan di Timor Barat yang
terserak dan tersebar di kebun dan padang dulunya tak berharga. Warga Timor Barat biasanya menggunakan batu hitam ini
menjadi pagar rumah, atau pagar kebun. Begitu tidak berharganya batu ini bahkan Kornelis Beti, salah seorang tua adat di
Desa Supul menyatakan,
“.... bahkan kita buang air di atasnya pun tidak masalah...” 2

