Page 229 - MP3EI, Masterplan Percepatan dan Perluasan Krisis Sosial-Ekologis Indonesia
P. 229

Ekonomi Keruk, Krisis Sosial-Ekologis, dan  219
                                                                                                           Perlawanan Rakyat di Kalimantan Selatan





































                                                                    Gambar 1: Aktivitas penambangan batubara.
                                                                            Foto: Swanvri.



                                   lebih besar dari perusahaan  tambang. Mereka sadar, kepentingan mereka pasti dikalahkan oleh pemerintah dan perusahaan
                                   tambang.

                                   Di kawasan tambang PT Arutmin  terjadi hal yang sama. Perusahaan akan  membangun jalan angkutan batu bara melalui
                                   desa Manggis dan Sungai Seluang, Kecamatan Kelumpang Utara, kabupaten Kotabaru. Masyarakat lantas ramai-ramai
                                   membangun rumah di sepanjang jalan itu dengan tujuan untuk dijual (baca: diganti rugi) kepada PT Arutmin. Dusun Manggis
                                   yang memiliki luas wilayah sekitar 10 km2 dan berpenduduk sekitar 856 jiwa itu akan menjadi sebuah dusun yang mati,
                                   kelak. Potret diatas salah satu cara bagaimana warga setempat menyikapi masuknya pertambangan. Pengerukan batubara
                                   ditanggapi dengan berbagai sikap dan cara oleh masyarakat, baik warga sekitar tambang maupun warga Kalsel secara
                                   umum. Walaupun tanggapan mereka berbeda-beda, namun sebagian besar berujung kepada sebatas persoalan ganti rugi
                                   dan kompensasi oleh perusahaan tambang. Paling tidak ada beberapa model respon rakyat terhadap pertambangan batu-
                                   bara ini, yaitu: Pertama, menerima secara penuh hadirnya pertambangan batubara karena dianggap dapat memberikan
                                   kontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun karena menadapat keuntungan pribadi. Kedua, menerima
                                   hadirnya pertambangan batubara dengan berbagai prasyarat. Utamanya syarat seberapa besar perusahaan dapat meme-
                                   nuhi tuntutan masyarakat dan keuntungan yang bisa didapat masyarakat. Ketiga, menerima kehadiran pertambangan batu-
                                   bara karena terpaksa bukan atas kesediaan dan kemauan sendiri. Keempat, menolak hadirnya pertambangan batubara
                                   karena dianggap tidak memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan mereka, baik pribadi maupun
                                   kelompok. Kelompok ini biasanya akan memberikan tanggapan baik jika perusahaan sudah memberi kebutuhan yang diingin-
   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234