Page 133 - Pengembangan Kebijakan Agraria: Untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlangsungan Ekologis
P. 133

Pengembangan Kebijakan Agraria untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlanjutan Ekologis

            sosial alami masyarakat. Konflik dengan keterlibatan militer ini
            penuh dengan intimidasi dan pelanggaran hak asasi manusia
            seperti penyiksaan, penculikan, penembakan, dan perkosaan.
            Tercatat, pada awal-awal masa reformasi saja (1998-2001) terjadi
            insiden kekerasan negara atas masyarakatnya sendiri sebanyak 83
            kali tersebar di 67 kota dengan perkiraan korban jiwa minimal
                    24
            46 orang.
                Reformasi tidak berarti represi berhenti. Di masa-masa
            terkini, kekerasan agraria masih kerap terjadi atas masyarakat
            adat. Perkembangan-perkembangan yang tidak menunjukkan
            perbaikan ini, semakin memberanikan masyarakat untuk bertindak
            sendiri. Sebagian berhasil mencapai tujuan yang ideal, lebih banyak
            yang gagal, dan sebagian lainnya berasimilasi dengan berbagai
            kepentingan baru. Makna “kontemporer” di awal, lebih dekat
            dipahami sebagai perkembangan kerumitan persoalan tanah adat
            justru di masa-masa reformasi.
                Reformasi seperti kehilangan arah mau kemana dan apa. Dalam
            masa-masa ini, sentralisme kekuasaan yang terpecah menyebar
            menjadi perebutan kekuasaan di berbagai lokalitas dengan, dan
            memunculkan para “raja-raja” kecil. Persoalan tanah-tanah adat kini
            semakin beragam. Adat tidak lagi mesti meperjuangkan sebatas hak
            atas suatu wilayah. Munculnya pengertian-pengertian adat yang
            lebih kompleks ini sejak terbukanya ruang-ruang mengemukakan
            pendapat berimplikasi pada kebaruan-kebaruan platform dan
            strategi. Berbagai kebaruan ini, selain diupayakan oleh adat itu
            sendiri untuk menerapkan suatu strategi baru pelawanan atas



            24. Mohammad Zulfan Tadjoeddin, Anatomi Kekerasan Sosial dalam Konteks
               Transisi: Kasus Indonesia 1990-2001, UNSFIR, “Working Paper” 02/01-1,
               2002. Hlm. 54

                                    — 114 —
   128   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138