Page 143 - Pengembangan Kebijakan Agraria: Untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlangsungan Ekologis
P. 143

Pengembangan Kebijakan Agraria untuk Keadilan Sosial, Kesejahteraan Masyarakat dan Keberlanjutan Ekologis

            2. Pulau Sebuku

            Pulau kecil Sebuku memiliki potensi tambang yang tinggi, seperti
            halnya karakteristik tanah di Pulau Kalimantan Selatan pada
            umumnya. Saat potensi tambang di Pulau lainnya di Kalimantan
            sudah hampir habis dieksploitasi, maka pulau kecil pun tidak
            luput dari penambangan. Begitu pula yang terjadi pada Pulau
            Sebuku, yang memiliki potensi tambang batu bara dan besi.
            Industri tambang bagi sebagian masyarakat Kalimantan Selatan
            bukan barang baru dan sudah tidak asing lagi, karena sejak zaman
            kolonial Belanda praktek tambang sudah ada, Hal ini dimulai dari
            masa kolonial dan masa kerajaan Banjar, yang mana perubahan
            lahan hutan untuk tanaman lada dan perkebunan karet dirubah
            menjadi tambang. Perusahaan tambang pertama yang dibangun
            adalah tambang batu bara Oranje Nassau “Bentang Emas”. Setelah
            itu, ada dua buah perusahaan tambang yang didirikan dekat
            Martapura yakni Julia Hermina dan Delft.
                Saat masa orde lama atau masa jaya kemerdekaan, sumberdaya
            Kalimantan Selatan sejenak bisa menghirup kebebasannya dari
            pengeksploitasian. Masa bebas ini ada hingga masa Soeharto atau
            masa orde baru, dimana HPH mulai berlaku pada tahun 1960-an.
            Selain itu, dengan alasan untuk rehabilitasi dan mencukupi
            kebutuhan industri, kerusakan ekologi tersebut terjadi hampir
            bersamaan dengan adanya perkebunan besar kelapa sawit pada
            pertengahan 1980-an. Hingga saat ini proses pendegrasian ekologi
            masih berlangsung, tidak terlepas pulau kecil yang seharusnya
            tidak ada kegiatan tambang.
                Sistem apanase membuat Belanda merasa masih kurang puas
            dan khawatir akan mengancam keberadaan tambang, karena
            kekuasaan Sultan bisa saja merubah status sewa apanase tersebut.


                                    — 124 —
   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148