Page 248 - Reforma Agraria (Penyelesaian Mandat Konstitusi)
P. 248

M. Nazir Salim & Westi Utami

                Buku ini berangkat dari pertanyaan pokok terkait praktik kebijakan
            RA Jokowi-JK yang mengalami pelambatan, khususnya RA dari objek
            pelepasan kawasan hutan. Penulis harus menjelaskan dan mengurai per-
            soalan dasar kelambatan tersebut, apakah diakibatkan oleh persoalan
            kelembagaan, objek TORA dan subjeknya, atau sumber daya manusia yang
            menanganinya. Pertanyaan pokok itu berhasil penulis analisis dengan
            menemukan problem utama yang terjadi di lapangan.

                Temuan penulis secara meyakinkan bahwa semua stakeholder ikut
            memberikan andil terhadap proses pelambatan pelaksanaan RA. Secara
            kelembagaan, rezim ini relatif maju, karena dalam waktu yang relatif
            singkat, infrastruktur hukum telah berhasil disediakan, yakni terbitnya
            Perpres 88/2017 tentang PPTKH dan Pepres 86/2018 tentang Reforma
            Agraria. Salah satu amanat Perpres 86/2018 adalah agar pemerintah
            membentuk kelembagaan yang menangani RA yakni GTRA di seluruh
            Indonesia. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kurang dari 6 bulan
            setelah perpres diundangkan, hampir semua provinsi sudah berhasil
            membentuk GTRA, namun sayang, pembentukan GTRA di tingkat kabu-
            paten/kota baru sekitar 13,8% (71 kabupaten kota dari 514 kabupaten/kota
            di seluruh Indonesia), padahal persoalan RA lebih pada penyelesaian
            kebutuhan akan lahan dan penyelesaian konflik tenurial yang ada di
            tingkat tapak, yakni kabupaten/kota.

                GTRA sebagai lembaga yang menangani pesoalan RA seharusnya
            bergerak lebih cepat, faktanya justru belum efektif dan efisien untuk
            mengerjakan RA di daerah. Problem ini terkait juga dengan argumen
            lain, yakni tentang anggaran, karena persoalan anggaran menjadi alasan
            belum berhasilnya kelembagan RA dibentuk pada level kabupaten/kota,
            total sampai Oktober 2019 baru 71 kabupaten di seluruh Indonesia. Dari
            sisi struktur kelembagaan, GTRA relatif maju karena tidak diurus oleh
            kementerian sektoral, melainkan di bawah Kementerian Koordinator
            Perekonomian, artinya garis komandonya cukup jelas dengan langsung
            di bawah presiden. Akan tetapi keberadaan Menko sebagai pimpinan
            GTRA tidak otomatis berjalan dengan cepat, karena problem RA secara
            riil ada di masing-masing daerah, dimana gubernur dan bupati/walikota
            sebagai pihak yang bertanggung jawab mengelolanya.

              220
   243   244   245   246   247   248   249   250   251   252   253