Page 157 - Pemikiran Agraria Bulaksumur, Telaah Awal Atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun dan Mubyarto
P. 157
Pemikiran Agraria Bulaksumur
Pada tahun 1960-1962 misalnya ketika ia melakukan penelitian
di Kuta Gamber untuk disertasinya, sebuah lokasi yang jauhnya
empat jam perjalanan. Riset itu pada awalnya ingin melihat
masalah kekerabatan dan perkawinan. Pada suatu pagi terjadi
keributan di desa: seorang ibu berteriak kesakitan kerena menggu-
gurkan. Kami berkerumun dan situasi menjadi kaku karena perso-
alan yang dihadapai (sebaiknya) tidak dibicarakan secara terbuka.
Sejak itu Masri dan istrinya mulai menghimpun informasi tentang
teknik-teknik pengguguran tradisional. Di catat 15 kasus secara
terperinci. Dipelajari ramuan yang dipakai, efek sampingan, siapa
yang menolong, dan bagaimana cara pembayaran kepada dukun.
Berbeda dengan di Jawa dimana teknik pengguguran terutama
mekanistis di masyarakat Karo ini caranya terutama kimiawi,
dengan memakai tumbuhan tertentu yang namanya tengkua. 71
Tentang praktek abtinensi yang digunakan oleh masyarakat
untuk mengatur jarak kelahiran ditemukanya dalam sebuah
kunjungan tidak resmi di bulan April 1969 di rumah Prof. Djojo-
digoeno, Masri mengungkapkan:
Kunjungan kami suami istri kepada Prof. Djojodigoeno di Cemorojajar
mempunyai nilai yang tak terhingga. Kepada beliau saya tanyakan menge-
nai program keluarga berencana yang mulai dicanangkan pemerintah.
Jawab beliau: “Saya tidak percaya kepada KB, tidak percaya kepada alat-
alat itu. Kalau tidak ingin punya anak, jangan kumpul”. Pada mulanya
saya kira beliau bersenda gurau, tetapi ternyata beliau serius. Saya sadar
untuk pertama kali bahwa salah satu cara untuk melaksanakan keluarga
berencana adalah dengan cara tidak kumpul atau abtinensi. Atas dasar
71 Masri Singarimbun, “Pendekatan Mikro Demografi, Pengalaman Me-
madukan Antropolgi dan Demografi,” Op.cit. Dimuat kembali dengan beberapa
tambahan di “Pendekatan Mikro Demografi, Pengalaman Memadukan Antro-
polgi dan Demografi,” Op.cit.
138

