Page 330 - Politik Kelembagaan Agraria Indonesia: Jalan Terjal Pembentukan Kelembagaan dan Kebijakan Agraria, 1955-2022
P. 330

M. Nazir Salim, Trisnanti Widi R, Diah Retno W.

                        tidak menjadi persoalan bahkan bukan menjadi sumber
                        utama konflik tanah, juga tidak serta merta meningkatkan
                        akses  modal bagi  masyarakat.  Joireman  melanjutkan,
                        menggerakkan dead capital dengan sertifikasi dianggap
                        bermasalah jika berhadapan pada  hak komunal, karena
                        akan menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat adat.


                        D. Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan dan
                           Penyelesaiannya melalui PPTKH-PPTPKH

                            Reforma Agraria dalam kawasan hutan mulai menjadi
                        isu yang banyak dibicarakan oleh publik setelah terjadi
                        gugatan UU No. 41 Tahun 1999. Diinisiasi oleh Aliansi
                        Masyarakat  Adat  Nusantara  (AMAN)  dan  masyarakat
                        adat lainnya yang menggugat beberapa pasal dalam UU
                        No.  41 Tahun 1999 ke Mahkamah Konstitusi (Siscawati,
                        2014). Hasil gugatan itu kemudian sebagian dikabulkan
                        oleh  Mahkamah Konstitusi  dan kemudian  dituangkan
                        dalam Putusan Mahkamah Konstitusi (PMK) No. 35/PUU-
                        X/2012 yang menunjukkan dengan jelas batasan antara
                        hutan adat dengan hutan negara. Menindaklanjuti PMK
                        No. 35/2012, pada tahun 2014 dibuatlah Peraturan Bersama
                        Menteri  Dalam  Negeri,  Menteri  Kehutanan,  Menteri
                        Pekerjaan Umum, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional
                        yang  lebih dikenal  dengan sebutan  Perber 4  Menteri
                        untuk mewadahi pemikiran terkait perlunya penyelesaian
                        penguasaan tanah dalam kawasan hutan oleh masyarakat.
                        Pelaksanaan amanat Perber 4 Menteri terkendala karena
                        produk  hukum  ini  dianggap  kurang  kuat  sehingga
                        diupayakan menjadi Perpres (Wibowo, 2017). Pada tahun

                         294
   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335