Page 89 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 89

Ahmad Nashih Luthfi


                   Pada gilirannya, ketika pemerintah Raffles memerlukan
               biaya tinggi guna keberlangsungan roda pemerintahan di India, ia
               membuat keputusan menjual tanah, termasuk desa-desa dan
               penduduknya yang mendiami luasan tanah itu, kepada pihak
               swasta. Pengusaha swasta menerima “berkah” atas segenap
               peralihan hak “feudal” yang diberikan pemerintah, baik me-
               nyangkut hak mengutip pajak, pengerahan tenaga kerja, dan
               sebagainya. Tercatat di Karesidenan Batavia, Karawang, Sema-
               rang dan Surabaya, tanah-tanah dijual kepada pihak swasta (Ti-
               onghoa). 31
                   Era liberal telah dimulai dengan nyata. Problem ketersediaan
               tanah telah dipecahkan, tinggal bagaimana faktor produksi lain
               dipersiapkan oleh rezim penerus: tenaga kerja murah. Ekonomi
               liberal Raffles ditandai dengan regulasi pertanahan dalam rangka
               menghidupkan “aset-aset yang mati” sebab dikuasai dalam sistem
               feodal/adat, satu gagasan yang menemukan bentuknya kembali
               pada pergantian abad 20-21 melalui tokohnya,   Hernando de
               Soto. 32

               3. Re-depolitisasi birokrasi van der Capellen (1816-1826)

                   Tidak banyak kajian yang dilakukan oleh van der Capellen
               menyangkut persoalan pertanahan. Ia memperkenalkan kembali
               ke Jawa gagasan negara dengan misi “enlightenment”. Ideologinya
               bisa dilacak balik dalam tahun 1780-an, bersamaan dengan



                   31  J. S. Bastin, op.cit., hal 72-88
                   32  Cara bagaimana “injecting life into dead capital” adalah dengan mendata
               kepemilikan tanah dan batas-batasnya. Gagasan de Soto berkisar seputar
               bagaimana kepastian hukum kepemilikan (Property Law) bagi kapitalisme;
               kendala-kendala birokrasi bagi kewirausahaan (Barriers to Entrepreneurship),
               sehingga perlunya reformasi sistem perundang-undangan yang ada (Legal System
               Reform). Dalam sistem ekstralegal, kepemilikan dan batas-batas tanah tidak dapat
               dipastikan, sehingga menyulitkan terintegrasi ke dalam sistem pasar. Maka lebih
               dahulu pemerintah harus mencari tahu mengapa dan bagaimana konvensi lokal
               bekerja serta seberapa kuat eksistensinya. Jangan sampai otorita pertanahan lebih
               tidak tahu dibanding “gonggongan anjing yang menandai batas wilayah milik
               majikan masing-masing”. Lihat, Hernando de Soto, ”Listening to the Barking
               Dogs: Property Law Agains Poverty in the non-West”, Focaal-European Journal of
               Anthropology, No. 41, 2003, hal. 182.
               36
   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94