Page 97 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 97
Ahmad Nashih Luthfi
mereka sekaligus mendapatkan keuntungan dengan mempe-
kerjakan diri di perusahaan itu sebagai buruh perkebunan.
Pada komoditas tertentu, tebu misalnya, buruh bekerja di
perkebunan dengan tetap menempati rumah asal mereka tinggal
(desa). Berbeda dengan komoditas kopi yang mengharuskan
mereka terpisah dari tempat tinggal semula dan menjadikan me-
reka tinggal di huma-huma atau enclave di sekitar perkebunan
yang dibuka. Dalam periode inilah dicatat perubahan status
mereka yang semula petani menjadi buruh (from peasant to
labor). 45
Dengan demikian, berakhirlah cultuurstelsel yang digantikan
dengan sistem perkebunan swasta, yang kemunculannya sebe-
narnya telah dimulai sebelum tahun 1870. Sampai dengan tahun
1860, dilihat dari segi tenaga kerja yang terserap, produksi, dan
bidang tanah yang digunakan, perkebunan swasta itu kebera-
daannya cukup penting. 46 Tahun 1870 merupakan titik ekska-
latif di mana semakin ekstraktifnya perekonomian Barat melalui
liberalisasi perekonomian di Jawa.
Cultuurstelsel telah memberikan dasar-dasar bagi kontrol
sosial dan tenaga kerja yang berarti bagi perkembangan
perusahaan perkebunan. Dalam periode inilah kita melihat
bahwa kebijakan pengelolaan dan penguasaan atas sumber-
sumber agraria didasarkan pada pertimbangan politik, dan
bukannya hasil riset, yang digerakkan kepentingan ekonomi
liberal. Undang-undang Agraria tahun 1870 merupakan titik
tolak sejarah pertanian Barat di Hindia Belanda. Dalam konteks
ekonomi politik, peraturan itu menciptakan kondisi bagi
akumulasi kapital dengan cara merongrong kontrol masyarakat
atas sumber-sumber produksi.
Peraturan itu setidaknya memberi tiga arti penting. Pertama,
memfasilitasi ambisi perusahaan untuk mentransformasikan
organisasi produksi Hindia Belanda, dari sistem kontrol negara
45 W. F. Wertheim, Indonesian Society in Transition, A Study of Social Change
(Bandung: Sumur Bandung, 1964 [cetakan kedua]), hal. 80-81.
46 Vincent J. H. Houben, “Perkebunan-perkebunan Swasta di Jawa Abad ke-
19”, dalam J. Thomas Lindblad (ed.), op.cit., hal. 97-98.
44

