Page 208 - Ranah Studi Agraria: Penguasaan Tanah dan Hubungan Agraris
P. 208
Penguasaan Tanah dan Kelembagaan
bengkok-nya, mekanismenya adalah sebagai berikut.
Ketika seseorang terpilih menjadi kepala desa, ia mem-
punyai banyak hutang akibat pengeluaran yang besar selama
kampanye pencalonan. Pada waktu pencalonan, ia mempunyai
pendukung-pendukung utama. Setelah ia terpilih, maka kepada
para pendukung tersebut ditawarkan jabatan sebagai anggota
pamong desa, dengan syarat selama satu tahun harus bekerja
tanpa imbalan, yaitu tanpa memperoleh tanah bengkok. Kerja
tanpa upah sebagai syarat untuk dapat menerima jabatan ini
disebut “magang”. Tetapi praktik-praktik demikian tidak resmi.
Artinya, secara resmi anggota pamong tersebut mendapat
tanah bengkok, tetapi atas dasar gentleman agreement dengan
kepala desa itu maka tanah bengkok tersebut dikuasai selama
satu tahun oleh kepala desa. Oleh kepala desa, semua tanah
bengkok yang dikuasai itu kemudian disewakan untuk dapat
memperoleh uang kontan yang cepat dan besar guna meng-
angsur hutang-hutangnya.
Pada gilirannya, keterlibatan hutang juga menimpa pa-
mong desa yang bersangkutan. Sebab, selama satu tahun beker-
ja tanpa imbalan itu ia terpaksa berhutang untuk hidupnya.
Akibatnya ketika ia benar-benar memperoleh tanah bengkok
setahun kemudian, tanah bengkok itu juga langsung disewakan
guna memperoleh uang dengan cepat untuk menutup hu-
tangnya yang lama, sementara hutang baru telah diambilnya.
Gali lubang tutup lubang.
Dalam Tabel 5.12. tampak bahwa di desa-desa tempat ter-
dapat tanah bengkok ternyata jumlah sewa-menyewa lebih
besar daripada di desa-desa tanpa tanah bengkok. Namun apa-
kah hal ini disebabkan oleh mekanisme prosedur “magang”
139

