Page 227 - Problem Agraria, Sistem Tenurial Adat, dan Body of Knowledge Ilmu Agraria- Pertanahan (Hasil Penelitian Sistematis STPN 2015)
P. 227
Pengakuan Penguasaan dan Pemanfaatan Tanah dalam ... 209
areal hutan yang disetujui bersama untuk berburu guna memenuhi
kebutuhan hewani atau mengambil kayu bahan bangunan artinya juga
selalu dipelihara dan dilindungi keberadaannya.
Dengan melihat pola pemanfaatan tanah dimaksud akan terkait
dengan pembuktian keberadaan/pengakuan atas penguasaannya. Tanah-
tanah hutan yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat tanpa
melalui pengolahan, besar kemungkinan akan mengalami kendala dalam
menentukan batas-batas penguasaaanya di lapangan yang umumnya
merupakan batas alami seperti sungai, lembah atau bukit.
Dengan demikian perlu adanya pengaturan secara spesifik tentang
jenis-jenis hutan adat agar dapat dijadikan sebagai payung hukum atas
keberadaan hutan adat. Mana hutan untuk melakukan ritual adat, mana
hutan untuk melakukan aktivitas pemenuhan kehidupan sehari-sehari, atau
mana hutan untuk memenuhi kebutuhan pihak investor. Kejelasan jenis-
jenis hutan (dalam tata ruang) diharapkan dapat meminimalisir perbedaan
pandangan dalam masyarakat adat Dayak, yaitu pemanfaatan hutan untuk
merubah taraf hidup dan atau tetap mempertahankan keberadaan tanah
tersebut.
2. Pemanfaatan melalui Pengolahan Tanah
Pola kedua dalam pemanfaatan tanah oleh masyarakat Dayak
adalah untuk ladang, kebun, dan tempat tinggal. Masyarakat Dayak baru
mendapatkan manfaat dari tanah setelah terlebih dahulu melakukan
pengolahan tanah, misalnya dengan diawali membuka hutan, menanami,
memelihara dan memanen hasilnya. Batas-batas bidang tanah (kebun dan
ladang) yang diolah dapat berupa tanaman, patok dan sebagainya serta
tanam tumbuhnya dapat dilihat di lapangan seperti tanaman keras dan
bangunan rumah (lihat Gambar 3). Pengakuan atas penguasaan tanah di
lapangan lebih mudah dalam menentukan batas-batas penguasaaanya
serta dilihat dari tanam tumbuh (tanaman keras, bangunan-bangunan
kuno, dan sebagainya).

