Page 245 - Problem Agraria, Sistem Tenurial Adat, dan Body of Knowledge Ilmu Agraria- Pertanahan (Hasil Penelitian Sistematis STPN 2015)
P. 245

Pengakuan Penguasaan dan Pemanfaatan Tanah dalam ...  227


              penguasaan tanah 5 Ha/KK. Hal ini menyebabkan kawasan-kawasan yang
              sudah ada  ijin  juga dapat diklaim dan  sudah dipathok-pathok  sebagai
              tanahnya . Dan yang lebih kurang rasional lagi, dinyatakan bahwa tanah 5
                      9
              Ha/KK ini di luar tanah yang sudah dikuasai. Untuk patut dipertanyakan,
              dimana memperoleh tanah (kosong) yang akan dibagikan kepada setiap
              KK. Menurut peneliti hanya mungkink dengan cara mengambil (“merebut”)
              dari HGU atau kawasan kehutanan.
                  Menyikapi program yang terlihat “baik bagi masyarakat adat Dayak”
              namun menurut peneliti kurang masuk akal, cenderung sebagai alat politik
              untuk  mencapai  tujuan politik praktis .  Semestinya  tidak dipaksakan
                                                 10
              seluas “5 hektar  di luar  tanah  yang  sudah  dikuasai”, namun  semestinya
              luasnya sesuai dengan realitas tanah yang sudah dikuasai masyarakat adat
              setempat,  utamanya  yang berada  pada kawasan kehutanan itulah  yang
              layak diperjuangkan sebagaimana amanat Perber jo Permen ATR/BPN No.
              9 Tahun 2015.
                  Tanah  secara  tradisional  memiliki kompleksitas makna bagi  orang
              Dayak yang hidup dengan kebudayaan agraris. Tanah adalah penghidupan
              ekonomi sekaligus sakral. Seiring pesatnya pembangunan modern, orientasi
              ini perlahan bergeser ke arah nilai ekonomi semata, yang mana dapat dilihat
              dari semakin banyaknya tanah yang dijual. Dari kasus di atas bisa dijadikan
              sampel  bagaimana  gejolak  orientasi  pemikiran, kebutuhan  serta juga
              pandangan masyarakat adat Dayak terhadap tanah. Di satu sisi masyarakat
              adat Dayak tengah berjuang untuk “merebut” tanah, dan seakan paradoks
              di sisi lain orang Dayak tengah “menyerahkan” tanahnya. Fenomena yang
              seakan paradoks tersebut, yaitu “merebut” dan “menyerahkan” tanah, ada


                  Kotawaringin  Timur),  persoalan  yang  dihadapi  masyarakat lokal  terkait
                  legalitas tanah akan terselesaikan.  Persoalan yang  menyangkut  permintaan
                  legalitas tanah adat melalui Kelompok Tani Dayak Misik, sudah masuk dalam
                  peraturan bersama empat menteri. Dalam peraturan bersama menteri itu, yakni
                  Menteri Dalam Negeri RI, Menteri Kehutanan RI, Menteri Pekerjaan Umum
                  RI, dan Kepala BPN RI itu ingin memberikan pengakuan hak-hak masyarakat
                  adat atas tanah atau perorangan dalam kawasan hutan. “Misalnya masyarakat
                  ternyata memiliki bukti lahan yang telah eksisting dan sudah dikelola secara
                  turun temurun akan diberikan pengakuan. Sumber: http://borneonews.co.id/
                  berita/13933-pemerintah-akan-legalisasi-tanah-masyarakat-adat, diunduh  5
                  Oktober 2015.
              9   Wawancara dengan Heriyadi, Sekretaris DAD Kabupaten Katingan, tanggal 12
                  Juni 2015.
              10   Lihat juga, Dayak Misik Jadi Alat Politik?, Harian Metropolis, Kamis tanggal 11
                  Juni 2015.
   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250