Page 253 - Problem Agraria, Sistem Tenurial Adat, dan Body of Knowledge Ilmu Agraria- Pertanahan (Hasil Penelitian Sistematis STPN 2015)
P. 253

Pengakuan Penguasaan dan Pemanfaatan Tanah dalam ...  235


                  tanah (hutan) dimaksud.
              b.  Proses Pensertipikatan  Tanah. Jika  diasumsikan  pelepasan  tanah-
                  tanah adat dari kawasan hutan bukan pelepasan hak, berarti proses
                  pendaftaran  tanahnya harus memalui  lembaga konversi. Konversi
                  tanah-tanah adat yang dimiliki individu prosesnya diatur dalam PP No.
                  24 Tahun 1997, sedang bagi tanah ulayat melalui lembaga konversi atau
                  lembaga  pemberian hak  dari  tanah Negara. Proses  pensertipikatan
                  hak atas  tanah dilakukan oleh  Kantor  Pertanahan  Kabupaten/Kota
                  letak  tanah,  dilakukan melalui “Pengakuan  Hak”. Kegiatan/proses
                  pensertipikatan melalui konversi hak-hak lama (pengakuan hak) tetap
                  dilakukan  karena data  bidang-bidang tanah  (data  fisik) yang sudah
                  diperoleh oleh Tim IP4T berupa data (peta) non-kadastral dan Tim
                  IP4T belum secara tegas ditunjuk untuk melaksanakan fungsi Panitia
                  A sebagaimana pelaksanaan pensertipikatan pada umumnya.

                      Adapun pola penguasaan tanah yang dapat didaftarkan adalah:
                  pertama untuk kawasan non hutan dapat berupa tanah Negara, tanah
                  pemerintah (hak Pakai atau Hak Pengelolaan), tanah adat komunitas
                  (hak Ulayat)  dan  tanah hak individu/badan hukum.  Kedua, untuk
                  kawasan  hutan  adalah:  a)  hutan  yang  yang  sudah dikeluarkan/
                  dilepaskan dari kawasan hutan melalui Perber yaitu hutan (termasuk
                  tanah pertanian, tegalan/huma, dan pekarangan) yang dimiliki secara
                  individual, keluarga atau telah dilepaskan melalui Permen ATR/BPN
                  No. 9 Tahun 2015 baik hutan hak adat (komunal) atau hutan hak lain.


                  Berdasarkan  uraian di  atas,  peneliti  berpendapat  bahwa dalam
              pelaksanaan pengakuan hak adat dan hak komunal sebagaimana Perber
              dan Permen diduga akan mengalami kesulitan teknis dilapangan. Pertama,
              kesulitan penentuan subyek hak komunal. Peraturan Daerah Kalteng No.
              16 Tahun  2008 yang telah diubah dengan  Perda  No.  1 Tahun 2010, serta
              Peraturan Gubernur Kalteng No. 13 Tahun 2009 yang telah diubah dengan
              Peraturan Gubernur Kalteng No. 4  Tahun 2012, mengatur mengenai
              kelembagaan adat dan hak masyarakat adat atas tanah. Pasal 10 ayat (1)
              huruf  b  Peraturan  Daerah  No  16  Tahun  2008,  mengatur  mengenai hak-
              wewenang Damang Kepala Adat yaitu mengelola hak-hak adat dan/atau
              harta  kekayaan  Kedamangan  untuk  meningkatkan  kemajuan  dan  taraf
              hidup masyarakat ke arah yang lebih layak dan lebih baik. Damang Kepala
              Adat beserta  fungsionaris memiliki hak-wewenang  untuk  pemanfaaatan
   248   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258