Page 22 - Tekpem fiks bgtz vera
P. 22
22
tertentu menuju zona pelusida. Senyawa tersebut berfungsi untuk melidungi sel
telur supaya tidak tertembus kembali oleh sperma lainnya. Sperma bersifat
haploid (n = 23 kromosom) dan sel telur juga bersifat haploid (n = 23
kromosom). Akibatnya, pembuahan sperma pada sel telur akan menghasilkan
sebuah zigot yang bersifat diploid (2n = 23 pasang kromosom). Zigot bergerak
menuju uterus melalui oviduk dan sembari membelah secara mitosis. Pada saat
ini juga zigot sudah mulai berkembang menjadi embrio. Pembelahan zigot
menghasilkan sel-sel yang bentuknya sama dan fasenya dinamakan morula.
Pembelahan morula menghasilkan blastosit dan fasenya dinamakan blastula.
Kurang lebih lima hari setelah fertilisasi, blastosit menempel pada endometrium
dan prosesnya dinamakan implantasi. Implantasi ini dapat menyebabkan
kehamilan.
(Mah et al., 2018)