Page 44 - MATERI WEDA
P. 44

Meskipun  dibentangkan  secara  tersirat  dari  beberapa  uraian  di  depan,
            terkecuali menegakkan keberadaan hukum Hindu yang menjiwai  hukum adat,
            sebenarnya  dengan  sendirinya  juga  mencangkup  pengertian  hukum Hindu
            menjiwai kebiasaan. Kebiasaan ini dibatasi dalam konteks-nya yang berakibat
            pada hukum  adat.  I Ketut Artadi menggambarkan kebiasaan itu  demikian:
            ”Dalam  aspek  lain  hubungan  antara  warga  ini  menonjol  juga  dalam hal
            pentaatan  terhadap  kebiasaan  pergaulan  hidup  yang  dihormati  yang  dapat
            berupa tata susila, sopan santun, hidup dalam pergaulan di suatu desa, yang
            sedemikian dianggap patut seperti cara bertegur sapa, tolong-menolong orang
            yang kena musibah, saling tolong dalam menanam  padi,  saling membantu
            dalam soal membuat rumah dan lain-lain. ”(Artadi, 1987:2). Komponen ini
            terdiri dari pernyataan tersebut berturut-turut adanya pentaatan dari warga,
            kebiasaan  pergaulan  hidup  yang  dihormati,  dan  output  berupa  kebiasaan
            tolong-menolong.
            Ide-ide untuk mematuhi norma sosial dan norma agama, sehingga melahirkan
            perilaku  sosial  yang  tolong  menolong,  seperti  terdapat  dalam  komponen
            tersebut  di  atas  merupakan  ide-ide  yang  melahirkan  hukum  adat.  Dengan
            demikian terdapat hubungan berantai dan estafet: dari hukum Hindu menjiwai
            hukum adat, dan penjiwaan itu mengalir juga menjiwai kebiasaan. Pembuktian
            adanya pengaruh hukum Hindu terhadap adat telah terbukti sejak berdirinya
            kerajaan Hindu di indonesia. Penguatan ini diberikan oleh Gde Pudja ketika
            membahas dimulainya pertumbuhan hukum Hindu. Gde Pudja mengatakan,
            bagian-bagian dari sejarah dan pasal-pasal dalam Dharmasastra dialihkan dan
            digunakan sebagai hukum pada masa kerjaan Hindu di Indonesia. Bukan pada
            masa Hindu saja, karena secara tidak disadari bahwa hukum Hindu itu masih
            tetap berlaku dan berpengaruh pula dalam hukum positif di Indonesia melalui
            bentuk-bentuk  hukum  adat.  Bentuk  secara  kasat  mata  dengan  kehidupan
            hukum  Hindu  yang  paling  nyata  masih  terasa  sangat  berpengaruh  adalah
            bentuk hukum adat di Bali dan Lombok, sebagai hukum yang berlaku hanya
            bagi golongan Hindu semata-mata (Pudja, 1977:34).

            Team research Universitas Udayana Denpasar dalam penelitiannya tentang
            pengaruh agama Hindu terhadap hukum pidana adat di Bali, menunjukkan
            adanya pengaruh hukum Hindu dalam jenis pelanggaran susila ini: Lokika,
            Sanggraha, Amandel Sanggama, Gamia Gamana, salah krama, drati-krama,
            dan wakparusya. (Team research Universitas Udayana Denpasar, 1975 : 47).












                                 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti              44
   39   40   41   42   43   44   45   46