Page 74 - Bahan Ajar Ega
P. 74

Bahan Ajar

              Sejarah Indonesia






                              4. Saling Pengertian Dan Harga Menghargai

                                     Di  dalam  perjuangan  mencapai  dan  mempertahankan  kemerdekaan,
                                 diperlukan  saling  pengertian  dan  sikap  saling  menghargai  di  antara  para

                                 pejuang. Sebagai contoh perbedaan pandangan antara pemuda (Syahrir dkk.)
                                 dengan  Bung  Karno-Bung  Hatta  dari  golongan  tua,  tetapi  karena  saling

                                 pengertian dan saling menghargai, maka kesepakatan dapat tercapai. Teks
                                 proklamasi  dapat  diselesaikan  dan  kemerdekaan  dapat  diproklamasikan,
                                 adalah bukti nyata buah kekompakan dan saling pengertian di antara para

                                 tokoh nasional.
                                     Berangkat  dari  sikap  saling  pengertian  dan  saling  menghargai  juga

                                 dapat memupuk rasa persatuan dan menghindarkan perpecahan. Timbullah
                                 rasa kebersamaan. Sebagai contoh, tokoh-tokoh Islam yang pernah menjadi
                                 Panitia  Sembilan  dan  PPKI,  memahami  dan  menghargai  kelompok-

                                 kelompok  lain,  sehingga  tidak  keberatan  untuk  menghilangkan  kata-kata
                                 dalam Piagam Jakarta, ”Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi

                                 para pemeluknya” dan diganti dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”.
                                 Kelompok sipil lebih menekankan cara diplomasi atau perundingan damai,

                                 sedangkan  kaum  militer  menekankan  strategi  perjuangan  bersenjata.
                                 Ternyata  berkat  saling  menghargai,  baik  perjuangan  diplomasi  maupun

                                 perjuangan bersenjata  dapat  saling mendukung.  Begitu juga  ketika terjadi
                                 Agresi  Belanda  II,  para  pemimpin  sipil  ingin  bertahan  di  pusat  ibu  kota
                                 (sehingga akhirnya ditawan Belanda) sedangkan kaum militer ingin ke luar

                                 kota  untuk  melancarkan  gerilya.  Kaum  militer  tidak  memaksakan
                                 kehendaknya agar kaum sipil ikut ke luar kota untuk bergerilya, dan begitu

                                 sebaliknya. Semua ini ada hikmahnya, bahwa perjuangan diplomasi maupun
                                 perjuangan bersenjata saling mengisi dan sama-sama pentingnya.











                                                                70

                                                                           “Belajar Sejarah Adalah Gudang Dari
                                                                           Semua Ilmu” _ Omega Pali A.L _
   69   70   71   72   73   74   75   76   77