Page 8 - PG Fikih 7 Genap 2020
P. 8
b. Merdeka. Tidak sah shalat Jum’at bagi hamba sahaya atau budak.
c. Memasuki usia baligh. Namun bagi anak kecil yang sudah mumayyiz shalatnya tetap sah, karena
belum diwajibkan melaksanakan shalat Jum’at. Tetapi sangat dianjurkan ikut serta sebagai
pembelajaran.
d. Berakal. Tidak wajib shalat Jum’at bagi orang yang hilang ingatan, karena sakit gila, ayan, pingsan
dan mabuk secara terus menerus.
e. Laki-laki. Tidak wajib shalat Jum’at bagi laki-laki yang belum baligh dan perempuan baik yang
sudah baligh atau belum.
f. Sehat. Bagi orang sakit dikecualikan dari kewajiban melaksanakan shalat Jum’at.
g. Menetap. Tidak wajib bagi orang yang bepergian ke suatu tempat yang tidak memiliki niat untuk
menetap selama minimal 4 hari. Waktu bepergian juga tidak pada hari Jum’at setelah shalat
subuh. Jika memiliki niat menetap dan bepergian setelah selesai shalat subuh maka wajib baginya
melaksanakan shalat Jum’at.
3. Sebutkan syarat dua khotbah Jum’at!
Jawab:
1. Suci dari hadats besar dan kecil. Jika khathib sebelum atau di tengah-tengah pembacaan khutbahnya
dibaca maka tidak sah.
2. Suci dari najis baik badan, pakaian dan tempat khutbah. Jika sebelum atau di tengah-tengah
khutbahnya, anggota badan maupun pakaian khathib terkena najis yang tidak dima’fu maka
khutbahnya tidak sah. Demikian pula, tempat khutbah seperti mimbar atau podium yang terkena
najis juga menjadikan tidak sah khutbahnya.
3. Menutup aurat. Khatib harus berpakaian yang menutup aurat, sebagaimana ketentuan dalam menutup
aurat bagi laki-laki ketika shalat.
4. Berdiri bagi yang mampu. Jika khtahib dalam keadaan sakit sehingga tidak kuat berdiri maka
diperbolehkan duduk, seperti yang berlaku dalam pelaksanaan shalat.
5. Duduk sejenak diantara dua khutbah dengan disertai thuma’ninah. Tidak diperbolehkan bagi khathib
membaca dua khutbah tanpa jeda. Harus ada pemisah di antara dua khutbah dengan cara duduk
diantara keduanya. Lama duduk sekiranya cukup membaca tasbih.
6. Berurutan antara dua khutbah. Tidak boleh khutbah pertama kemudian khatib melaksanakan shalat
Jum’at baru kemudian melaksanakan khutbah kedua. Juga tidak diperbolehkan khutbah kedua dan
disusul khutbah pertama.
7. Berurutan antara dua khutbah dengan shalat Jum’at. Khathib tidak boleh shalat Jum’at lebih dulu
baru melaksanakan dua khutbah, seperti yang terjadi di khutbah dua hari raya.
8. Menggunakan Bahasa Arab. Kewajiban menggunakan bahasa Arab jika shalat Jum’at dilaksanakan
di daerah dengan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu. Khutbah yang dilaksanakan di luar Negara non-
Arab diperbolehkan pelaksanaan khutbah dengan Bahasa yang dipahami oleh para Jama’ah. Hukum
boleh dengan syarat rukun-rukun khutbah harus tetap dibaca dengan menggunakan Bahasa Arab,
kemudian disusul nasehat-nasehat dengan menggunakan bahasa setempat.
9. Jama’ah yang mendengarkan minimal 40 orang. Jika jama’ah yang mendengarkan kurang dari 40
orang, maka khutbah yang disampaikan tidak sah.
10. Waktu pelaksanaan masih dalam lingkup waktu shalat Dhuhur. Tidak sah hukumnya khutbah dilakukan
pada saat sebelum matahari tergelincir ke arah barat atau telah memasuki waktu shalat Ashar.
11. Mengeraskan suara yang sekiranya 40 jama’ah dapat mendengarnya. Mengeraskan suara dapat
dilakukan dengan bantuan pengeras suara dan sah hukum khutbahnya.
4. Sebutkan rukun Khutbah Jum’at?
Jawab:
1. Memuji Allah Swt. Khatib dalam dua khutbahnya mengucapkan pujian kepada Allah. Contohnya
mengucapkan hamdallah yang bermakna “segala puji bagi Allah”.
2. Membaca shalawat kepada Rasulullah Saw. Khathib juga harus mengucapkan pujian kepada Nabi
Saw dalam dua khutbahnya.
3. Berwasiat agar selalu bertakwa kepada Allah Swt. Khatib mengajak kepada dirinya dan seluruh
jama’ah agar selalu bertakwa dalam dua khutbahnya.
4. Membaca surat al-Qur’an. Pada salah satu dari dua khutbahnya, khathib membaca ayat al-Qur’an.
5. Membaca doa yang ditujukan kepada seluruh umat Islam. Doa dibaca khatib pada khutbah kedua.
5. Sebutkan hikmah Shalat Jum’at!
Jawab:
Melatih Kedisiplinan, Melatih Tanggung Jawab
8 PG - Fikih Kelas VII - Genap