Page 26 - STUNTING APLIKASI KOMPUTER
P. 26

ini berdampak pada disparitas yang lebar  besarnya masalah
                                stunting balita antar wilayah/propinsi (Bappenas, 2015).
                                       Mengurangi ketimpangan pendapatan lebih kompleks
                                daripada mengurangi kemiskinan. Unicef melaporkan bahwa
                                pada tahun 2000 secara global balita di dunia dari keluarga
                                dengan pendapatan paling miskin mempunyai risiko stunting
                                sebesar 1,2  daripada keluarga dengan pendapatan paling
                                kaya, pada tahun 2014 risiko ini meningkat menjadi 1,7 kali.
                                Di Indonesia, berdasarkan Riskesdas tahun 2007 balita dari
                                keluarga  paling miskin  berisiko  stunting  sebesar  1,37  kali
                                dibanding  dari keluarga paling  kaya (Kemenkes RI, 2007),
                                risiko  ini  meningkat  menjadi  1,66  kali  pada  tahun  2013
                                (Kemenkes RI, 2013).  Secara konsisten hasil penelitian lain
                                juga menyatakan hal yang sama (Frongillo, 1999;  Delpeuch
                                et al., 2000; Dekker et al., 2010; Ahmed, Hasan, Chowdury,
                                2013;  Chirande  et  al.,  2015; Akombi  et  al.,  2017;  Siswati,
                                Sudargo, Kusnanto, 2018).
                                       Menurut Marmot (2005), mengatasi persoalan sosial
                                merupakan  cara  yang  paling  adil  dan  mempunyai  daya
                                ungkit yang paling besar untuk memperbaiki kesehatan bagi
                                semua penduduk. Karena  faktor sosial termasuk kebijakan
                                ekonomi,  pemerintahan,  sosial, publik, politik,  nilai-nilai
                                budaya, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan sangat besar
                                pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat (WHO,
                                2005).    Intervensi  pembangunan  ekonomi  dengan
                                memperhatikan ekuitas merupakan cara yang efektif untuk
                                meningkatkan  derajat  kesehatan  pada  penduduk  miskin
                                (Marmot, 2007). Namun intervensi ini harus disertai dengan
                                perubahan  perilaku  individu  dan  rumah  tangga  kearah
                                perilaku yang sehat (Sachs, 2002). Misalnya  edukasi pada
                                masyarakat  dalam  menggunakan  jamban  untuk  BAB,
                                menggunakan air  bersih, mengkonsumsi  air  minum yang
                                dimasak terlebih dahulu, membangun kebiasaan cuci tangan,



                                                                Tri Siswati, SKM, M.Kes.  21
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31