Page 105 - 3. SKI_ MI_ KELAS_III_KSKK_2020_Kamimadrasah
P. 105

pamannya untuk memalingkan mukanya ketika Muhammad saw. melepaskan pakaiannya.

               Tentu  saja  Abu  Thalib  kaget,  karena  orang  dewasa  Arab  sekalipun  pada  masa  itu  tak
               menolak  bila  diminta  telanjang  bulat  di  hadapan  orang  lain.  Kata  Abu  Ṭalib:  “Aku  tak

               pernah mendengar dia berbohong, juga tak pernah aku melihat dia melakukan sesuatu yang
               tak senonoh. Kalau perlu saja Muhammad tertawa. Dia juga tak ingin ikut dalam permainan

               anak-anak. Dia lebih suka sendirian, dan selalu sopan, rendah hati dan bersahaja.”


               Nabi  Muhammad  saw.  adalah  Nabi  yang  terjaga  sejak  kecil  karena  beliau  tidak  pernah

               menyembah berhala seperti orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak pernah makan daging
               hewan  yang  disembelih  untuk  kurban  berhala.  Nabi  Muhammad  saw.  juga  tidak  pernah

               minum-minuman yang memabukkan, berfoya-foya sebagaimana kebiasaan orang Arab saat

               itu.


               Saat Nabi Muhammad saw. masih kanak-kanak, di Makkah terjadi musim kemarau yang

               sangat  lama.  Orang-orang  Quraisy  berkata  kepada  Abu  Thalib,  “Wahai  Abu  Thalib,

               lembah-lembah kering dan keluarga kami kelaparan. Mari kita minta hujan.” Maka Abu
               Thalib  keluar  membawa  Nabi  Muhammad  saw.  dan  menyandarkannya  di  dinding

               Ka’bah, sementara  beliau berpegangan dengan jari-jari  pamannya itu. Pada waktu  itu

               sinar matahari sangat panas dan sangat terik. Tiba-tiba datang awan hitam dari berbagai
               penjuru menuju atas Ka’bah. Lalu turunlah hujan yang sangat lebat.



               F. Awan menaungi perjalanannya


               Perniagaan ke negeri Syam, kafilah dagang dari Makkah tatkala sampai disuatu tempat

               yang bernama Bushra, rombongannya itu bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang

               bernama “Buhaira”.


               Pendeta Bahira terheran melihat sebuah kafilah dagang yang datang dari Makkah, kafilah ini

               sudah  sering  lewat,  tapi  kali  ini  tidak  seperti  biasanya.  Di  atas  mereka  ada  awan  yang
               menaungi perjalanan mereka. Ketika mereka berhenti di bawah sebuah pohon, awan itu pun

               berhenti. Pendeta ini memandangi rombongan ini seakan mencari sesuatu dari mereka. Dia
               mendekat, lalu memegang tangan Muhammad saw. yang masih anak-anak







               96                                              SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM – KELAS 3
   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110