Page 63 - KLIPINGDIKTI
P. 63
Judul 100 Hari Nadiem Makarim, Nadiem: Resistensi Adalah Hal yang Wajar
Media Kompas.com
Terbit February, 01 Feb 2020
Tone Netral
Halaman/Link https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/31/22250551/100-hari- nadiem-makarim-nadiem-resistensi-adalah-hal-yang-wajar
PR Value Rp75.000.000
100 Hari Nadiem Makarim, Nadiem: Resistensi Adalah Hal yang Wajar Kompas.com - 31/01/2020, 22:25 WIB BAGIKAN: Komentar Ilustrasi ujian di sekolah.(KOMPAS.com/ALBERTUS ADIT) Penulis Wahyu Adityo Prodjo | Editor Wahyu Adityo Prodjo KOMPAS.com- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan resistensi di masyarakat mengenai kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka adalah hal yang wajar. Baginya, jika ingin melakukan perubahan maka harus dilakukan secara drastis. “Saya harap semua orang mengerti bahwa di Indonesia tidak ada satupun bidang pemerintahan yang tidak harus ada lompatan. Semuanya butuh lompatan," kata Nadiem dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (31/1/2020). Menurutnya, Indonesia adalah negara yang besar dan perlu mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan. Nadiem menilai, bila tak ada resisten, maka perubahan besar tersebut tak cukup berdampak. "Jadi saya melihat resistensi positif itu jadi tantangan buat kita,” pungkas Nadiem. Selama 100 hari kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan dua paket kebijakan di bidang pendidikan. Kebijakan pertama dikenal dengan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Baca juga: Ini Tanggapan Ketua Majelis Rektor PTN soal Kampus Merdeka Kebijakan pertama yaitu berupa pembenahan terhadap sistem pendidikan dasar dan menengah, salah satunya adalah menghapus sistem Ujian Nasional (UN) dan menggantinya dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Selanjutnya, pada kebijakan kedua memberikan berbagai keleluasaan pada perguruan tinggi tanpa harus berkoordinasi dengan begitu banyak instansi atau kementerian lainnya. Ia berharap agar kebijakan “Merdeka Belajar” akan semakin banyak mengundang partisipasi masyarakat untuk bergabung dalam proses pendidikan. Karena jika hanya pemerintah yang maju maka kebijakan ini akan gagal. Oleh karena itu, harus ada perubahan pola pikir. Perubahan pendidikan secara tepat, holistik, dan inklusif, dan relevan hanya bisa dilakukan kombinasi antara pendidikan dan masyarakat. “Jadi seratus hari ini, semua kita analisis

