Page 11 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 11

Prawiranegara  untuk menjadi  ketua  Pemerintah Darurat  Republik Indonesia
                 di Sumatera Barat. Bahkan Soekarno juga memerintahkan kepada Soedarsono
                 dan LN. Palar untuk siap mengantisipasi bila suatu ketika terpaksa mendirikan
                 pemerintahan pengasingan   di  India, meski  hal  ini  akhirnya  tidak terjadi.
                 Dengan kondisi kritis seperti itu maka Republik Indonesia dapat digambarkan
                 bagai “sebutir telur di ujung tanduk”.

                     Namun demikian Panglima Besar Soedirman sekeluarnya dari Yogyakarta,
                 langsung memimpin pasukannya      untuk meneruskan perjuangan melawan
                 Belanda dengan melakukan perang gerilya. Sementara Kolonel A.H. Nasution,
                 selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa meneruskan  rencana pertahanan
                 rakyat yang yang telah disusun oleh Panglima Besar Sudirman, dan dikenal
                 sebagai Perintah Siasat Nomor 1. Salah satu pokoknya adalah menyusupkan
                 pasukan-pasukan yang berasal  dari  daerah-daerah federal  ke  garis  belakang
                 musuh dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa
                 akan menjadi medan gerilya yang luas.
                     Dapat  pula  dikemukakan peran Sultan Hamengku Buwono IX         yang
                 tela  memberika  dukunga  fasilitas da  inansial  unt  keberlangsunga

                 berjalannya  pemerintahan republik yang ditinggalkan para    pemimpinnya
                 tersebut. Menurut Kahin, dua kekuatan inilah yang menjadi sumber perlawanan
                 terhadap Belanda  yang pada  akhirnya  memaksa  Belanda  untuk mengakhiri
                 perang menuju Konferensi Meja Bundar (KMB).
                     Kedua   kekuatan yang digerakan oleh unsur sipil     dan tentara  yang
                 melakukan gerilya menjadi amunisi yang ampuh bagi para diplomat kita yang
                 terus berunding di forum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dengan strategi
                 perjuangan tersebut  di  atas  dengan mendapat  tekanan Internasional  dan
                 dari  Amerika  Serikat  sendiri  yang mengancam  akan menghentikan bantuan
                 Marshall Plan, maka Belanda terpaksa menandatangani perjanjian KMB yang
                 berisi “penyerahan kedaulatan” (souvereniteit overdracht).
                     Situasi  dan kondisi  perjuangan sebagaimana  digambarkan di  atas  itulah
                 yang menjadi  makna   nilai  persatuan dari  peringatan kebangkitan nasional
                 ke-40 di tahun 1948, yang menggerakkan perjuangan bangsa Indonesia yang
                 pantang menyerah dan pada akhirnya dapat mengakhiri upaya Belanda untuk
                 kembali menjajah.

                     Ancaman disintegrasi   (perpecahan) bangsa  memang bukan persoalan
                 main-main. Tak hanya merupakan masalah di masa lalu. Potensi disintegrasi
                 pada  masa  kinipun bukan tidak mungkin terjadi. Karena   itulah kita  harus
                 terus  dan selalu memahami  betapa  berbahayanya  proses  disintegrasi  bangsa
                 apabila  terjadi  bagi  kebangsaan kita. Sejarah Indonesia  telah menunjukkan
                 hal tersebut.



                                                                        Sejarah Indonesia          3
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16