Page 47 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 47

Sejak awal   kemerdekaan, Sultan memberikan banyak fasilitas      bagi
                     pemerintah RI yang baru terbentuk untuk menjalankan roda pemerintahan.
                     Markas TKR dan ibukota RI misalnya, pernah berada di Yogjakarta atas
                     saran Sultan.  Bantuan logistik dan perlindungan bagi kesatuan-kesatuan
                     TNI tatkala perang kemerdekaan berlangsung, juga ia berikan.

                     Sultan Hamengku Buwono IX      juga  pernah menolak tawaran Belanda
                     yang akan menjadikannya raja seluruh Jawa setelah agresi militer Belanda
                     II berlangsung. Belanda rupanya ingin memisahkan Sultan yang memiliki
                     pengaruh besar itu dengan Republik. Bukan saja bujukan, Belanda bahkan
                     juga  sampai  mengancam  Sultan. Namun Sultan Hamengku Buwono IX
                     malah menghadapi ancaman tersebut dengan berani.
                     Meskipun berstatus Sultan, Hamengku Buwono IX dikenal pula sebagai
                     pribadi  yang demokratis  dan merakyat. Banyak kisah menarik yang
                     terjadi dalam interaksi antara Sultan dan masyarakat Yogyakarta. Cerita
                     yang dikisahkan oleh SK  Trimurti  dan diolah dari  buku “Takhta  Untuk
                     Rakyat”  berikut  ini, menggambarkan hal  tersebut. Trimurti  adalah istri
                     Sayuti Melik, pengetik naskah teks proklamasi:


                     Pingsan Gara-Gara Sultan

                     Kejadiannya berlangsung pada tahun 1946, ketika pemerintah Republik
                     Indonesia pindah ke Yogyakarta. Saat itu, SK Trimurti hendak pulang menuju
                     ke rumahnya. Penasaran dengan kerumunan orang di jalan, iapun singgah.
                     Ternyata ada perempuan pedagang yang jatuh pingsan di depan pasar.
                     Uniknya, yang membuat warga berkerumun bukanlah karena perempuan yang
                     jatuh pingsan tadi, melainkan penyebab mengapa perempuan tersebut jatuh
                     pingsan.


                     Cerita berawal ketika perempuan pedagang beras ini memberhentikan
                     sebuah jip untuk ikut  menumpang ke pasar Kranggan. Sesampainya di Pasar
                     Kranggan, ia lalu meminta sopir jip untuk menurunkan semua dagangannya.
                     Setelah selesai dan bersiap untuk membayar jasa, sang sopir dengan halus
                     menolak pemberian itu. Dengan nada emosi, perempuan pedagang ini
                     mengatakan kepada sopir jip, apakah uang yang diberikannya kurang. Tetapi
                     tanpa berkata apapun sopir tersebut malah segera berlalu.
                     Seusai kejadian, seorang polisi datang menghampiri dan bertanya kepada si
                     perempuan pedagang : "Apakah mbakyu tahu, siapa sopir tadi?"

                     “Sopir ya sopir. Aku ndak perlu tahu namanya. Dasar sopir aneh," jawab
                     perempuan pedagang beras dengan nada emosi.






                                                                        Sejarah Indonesia         39
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52