Page 74 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 74

Sistem  kepartaian yang dianut  pada  masa  Demokrasi   Liberal  adalah
              multi  partai. Pembentukan partai  politik ini  menurut  Mohammad Hatta
              agar memudahkan dalam      mengontrol  perjuangan lebih lanjut. Hatta  juga
              menyebutkan bahwa    pembentukan partai  politik ini  bertujuan untuk mudah
              dapat  mengukur kekuatan perjuangan kita       dan untuk mempermudah
              meminta   tanggung jawab kepada   pemimpin-pemimpin barisan perjuangan.
              Walaupun pada   kenyataannya  partai-partai  politik tersebut  cenderung untuk
              memperjuangkan kepentingan golongan daripada        kepentingan nasional.
              Partai-partai  politik yang ada  saling bersaing, saling mencari  kesalahan dan
              saling menjatuhkan.    Partai-partai  politik yang tidak memegang jabatan
              dalam kabinet dan tidak memegang peranan penting dalam parlemen sering
              melakukan oposisi   yang kurang sehat   dan berusaha   menjatuhkan partai
              politik yang memerintah. Hal  inilah yang menyebabkan pada   era  ini  sering
              terjadi pergantian kabinet,  kabinet tidak berumur panjang sehingga program-
              programnya   tidak bisa  berjalan sebagaimana  mestinya  yang menyebabkan
              terjadinya instabilitas nasional baik di bidang politik, sosial ekonomi maupun
              keamanan.
                  Kondisi inilah yang mendorong Presiden Soekarno mencari solusi untuk
              membangun kehidupan politik Indonesia yang akhirnya membawa Indonesia
              dari sistem Demokrasi Liberal menuju Demokrasi Terpimpin.


               TUGAS
               Buat rangkuman  tentang  salah  satu partai  pada   masa  Demokrasi  Liberal
               1950-1959  sebanyak  satu  halaman. Setelah dinilai oleh guru kalian,  jilid
               atau tempel rangkuman tersebut di mading kelas!

              3.   Pemilihan Umum 1955

                  Pelaksanaan pemilihan umum 1955 bertujuan untuk memilih wakil-wakil
              rakyat  yang akan duduk dalam Parlemen dan Dewan Konstituante. Pemilihan
              umum   ini  diikuti  oleh partai-partai  politik yang ada  serta  oleh kelompok
              perorangan.  Pemilihan umum ini sebenarnya sudah dirancang sejak Kabinet
              Ali  Sastroamidjojo I (31 Juli  1953-12 Agustus  1955) dengan membentuk
              Panitia  Pemilihan Umum    Pusat  dan Daerah pada   31 Mei  1954.  Namun
              pemilihan umum tidak dilaksanakan pada masa Kabinet Ali I karena terlanjur
              jatuh. Kabinet  pengganti  Ali  I yang berhasil  menjalankan pemilihan umum,
              yaitu Kabinet Burhanuddin Harahap.

                  Pelaksanaan Pemilihan Umum pertama dibagi dalam 16 daerah pemilihan
              yang meliputi 208  kabupaten, 2139  kecamatan, dan 43.429 desa. Pemilihan




              66    Kelas XII SMA/MA
   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79