Page 10 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 JUNI 2020
P. 10

Hasilnya 89 persen dari pelatihan tersedia di internet dan tidak berbayar termasuk di laman
              prakeija.org." ujarnya.

              Di sisi lain KPK menyebut program kartu Prakeija bermasalah secara kemitraan dengan para
              penyedia layanan pelatihan digital.

              Menurut  Alex.  permasalahan  pertama  karena  delapan  penyedia  pelatihan  daring  ikut  serta
              dalam  program  tanpa  Pengadaan  Barang  dan  Jasa  Pemerintah  (PBJ).  Hal  tersebut  memiliki
              potensi konflik kepentingan. "Terdapat konflik kepentingan pada 5 dari 8 platform digital dengan
              lembaga penyedia pelatihan." ujarnya.

              Alexjuga menyebutkan sebanyak 250 pelatihan dari 1.895 pelatihan yang tersedia adalah milik
              Lembaga  Penyedia  Pelatihan  yang  memiliki  konflik  kepentingan  dengan  platform  digital.
              Program Kartu Prakerja disusun untuk kondisi nor

              mal sesuai Perpres 36/2020 yang menjadi program ) seml-bantuan sosial dalam i masa pandemi.
              Program tersebut memakan anggaran i sebesar Rp20 Triliun dengan

              target peserta 5.6 Juta orang.

              Komposisi nilai total in-i sentlf pasca pelatihan ya-i Itu sebesar Rp2.400.000 t per orang dan
              Insentif sur-t vel sebesar Rp 150.000 perorang. Sedangkan nilai ban-. tuan pelatihannya sebesar
              i Rp 1.000.000 per orang.

              Selain berpotensi konflik ; kepentingan. KPK menca-l tat permasalahan Prakerja i terletak pada
              metode pelaksanaan secara daring. Menurut KPK. metode tersebut besar kemungkinan dapat
              flktif atau tidak efektif se-i hingga merugikan keuangan negara.

              Karena metode pembelajaran hanya satu arah. Peserta sudah mendapatkan Insentif meskipun
              belum menyelesaikan seluruh pelatihan yang sudah dibeli, sehingga negara tetap membayar
              pelatihan yang tidak diikuti oleh peserta.

              Lebih lanjut lagi. KPK mengatakan lembaga pelatihan sudah menerbitkan sertifikat meskipun
              peserta belum menyelesaikan keseluruhan paket pelatihan yang telah dipilih.
              Materi pelatihan pun dianggap tidak memadai. Pelatihan yang memenuhi syarat secara materi
              dan penyampaian daring hanya 13 persen dari 1.895 pelatihan.

              Permasalahan Juga terjadi pada proses pendaftaran. KPK merujuk pada data Kemenaker dan
              BPJS  Ketenagakerjaan  yang  telah  mengkompilasi  data  pekerja  terdampak  PHK  dan  sudah
              dipadankan NIK-nya berjumlah 1.7 Juta pekerja terdampak Namun menurut KPK.

              hanya  sebagian  kecil  dari  whltelist  ini yang  mendaftar  secara  daring.  yaitu  hanya  143  ribu.
              Sedangkan. sebagian besar peserta yang mendaftar untuk 3 gelombang yaitu 9.4 Juta pendaftar
              bukanlah target yang disasar oleh program ini. "Kemudian penggunaan fltur face recognition
              untuk  kepentingan  pengenalan  peserta  dengan  anggaran  Rp30.8  Miliar  tidak  eflsien.
              Penggunaan NIK dan keanggotaan BP Jamsostek sudah memadai." ujarnya.

              Berdasarkan temuan di atas. KPK memberikan sejumlah rekomendasi untuk perbaikan teknis
              pelaksanaan  program  Kartu  Pra-keija.  DI  antaranya,  peserta  yang  disasar  pada  pekerja
              terdampak tidak perlu mendaftar daring melainkan dihubungi manajemen pelaksana sebagai
              peserta  program:  Penggunaan  NIK  sebagal  identifikasi  peserta  sudah  memadat  tidak  perlu
              dilakukan penggunaan fltur lain yang mengakibatkan penambahan biaya.

              KPK Juga menyarankan agar komite meminta pendapat hukum ke Kejaksaan Agung tentang
              keija sama dengan delapan platform digital ini apakah termasuk
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15