Page 203 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 Mei 2019
P. 203
memberikan waktu kepada kaum buruh untuk memperjuangkan masalah yang
dihadapi.
Menurutnya, penetapan May Day sebagai hari libur nasional membuat pihaknya
tidak perlu lagi melakukan aksi 'sweeping' atau mendatangi pabrik-pabrik untuk
menjemput rekannya untuk mengajak ikut melakukan aksi unjuk rasa di May Day.
"Sebelum ditetapkan hari libur nasional, pola yang dipakai mobilisasi itu ada aksi
'sweeping' pabrik mendatangi kawan-kawan. Sekarang tidak lagi," kata Ilhamsyah
kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/4).
Dia menilai penetapan May Day sebagai hari libur nasional tidak menyurutkan
perhatian masyarakat pada isu atau tuntutan yang pihaknya sampaikan saat
menggelar aksi unjuk rasa.
Iham menegaskan masyarakat tetap memberikan terhadap aksi unjuk rasa di May
Day karena selalu mengangkat isu yang tak lagi bersifat eksklusif bagi kaum buruh
saja, seperti terkait harga kebutuhan pokok hingga pendidikan.
"Menurut saya biasa saja (hari libur). Gerakan buruh sudah masuk ke isu sosial yang
berkaitan dengan masyarakat. Buruh tidak lagi eksklusi tapi membahas isu yang
berkaitan dengan kepentingan masyarkat umum," ucap dia.
Dituding 'Menggembosi' Senada, anggota Pengurus Nasional Sentra Gerakan Buruh
Nasional Akbar Rewako menyatakan penetapan May Day sebagai hari libur nasional
tidak menyurutkan perhatian masyarakat pada isu atau tuntutan yang disampaikan
dalam aksi May Day.
Akbar mengatakan, pemerintah justru menjadi pihak kerap 'menggembosi'
penyelenggaraan hari buruh dengan menyelenggarakan acara yang menyediakan
hadiah serta panggung musik. Menurutnya, langkah pemerintah itu membuat
jumlah buruh yang ikut dalam aksi unjuk rasa di May Day tidak maksimal.
"Ada upaya pemerintah bikin acara khusus di May Day seperti panggung musik dan
door prize , itu cukup mengurangi jumlah peserta. Tidak ada masalah (hari libur),
persoalannya karena ada upaya pemerintah mengurangi jumlah peserta," ujar
Akbar.
(mts/asa).
Page 202 of 656.

