Page 467 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 Mei 2019
P. 467
Title ESSENSI MAY DAY BUKAN SEKEDAR SERIMONI
Media Name baranewsaceh.co
Pub. Date 30 April 2019
Page/URL http://baranewsaceh.co/essensi-may-day-bukan-sekedar-serimoni/
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Apa artinya May Day jika cuma sekedar serimoni. Toh, semua orang cukup mahfum
bila pada 1 May seratus tahun lalu itu menjadi hari bersejarah bagi perjuangan
serikat buruh dalam upaya memperjuangkan hak-hak kaum buruh hingga layak
bekerja cuma delapan jam per hari. Karena sebelumnya kaum buruh diperas untuk
bekerja lebih lama dari itu dan upahnya pun tidak layak.
Sekarang jam kerja kaum buruh sudah relatif lebih pendek dam upahnya paling
rendah satu dolar per jam. Artinya, jika dikonversi dengan milai dolar sekarang di
Indonesia --15 ribu rupiah misalnya --- maka hanya dalam sehari kerja kaum buruh
bisa menerima upah minimal sebedar 8 X 15 ribu rupiah. Jika rata-rata upah sehari
buruh sebedar 120 rupiah, maka untuk satu bulan kerja kaum buruh dapat
menerima upah minimal 3 juta rupiah. Padahal upah buruh di dunia yang normal
tidak kurang dari dua dolar.
Jadi kalau pada perayaam May Day 2019 tidak memberi dampak apa-apa terhadap
kondisi kesejahteraan buruh, maka May Day tidak lebih dari nostalgia belaka.
Karena idealnya apa yang pernah diraih ka buruh pada masa silam itu dapat
ditingkat lagi mutu dan kualitas dari perjuangan yang layak dilakukan sekarang.
Misalnya tentanh outsourching yang justru dilangengkan oleh pemerintah dengan
sistem menerapkan kerja kontrak pada PNS yang baru direkrut tahun 2018 lalu.
Kecuali itu juga, momentum May Day hendaknya bisa dimanfaatkan untuk retrofeksi
diri, bagaimana caranya untuk menyatukan organisasi buruh sehingga tidak lagi
terkesan masih ikut mengekploitasi kaum buruh sebagai komoditi politik maupun
ekonomi oleh organisasi kaum buruh itu sendiri. Fenomena dari maraknya
organisasi buruh di Indonesia, wajar jika dinilai oleh aktivis dari negara tetangga
kita sungguh tak sehat. Karena fenomen itu mengisyarakan ada persaingan yang
tidak sehat, sehingga kaum buruh pun menjadi komoditi di pasar bebas yang
tumbuh liar hingga semua telah dikuasai kaum kapitalis.
Dalam kondisi kaum buruh Indonesia seperti sekarang, pasti akan semakin sulit
mengharap adanya langkah maju untuk memperbaiki kondisi kaum buruh di
Indonesia untuk lebih baik dan lebih beradab. Misalnya untuk membangun partai
politik yang dapat menyalurkan aspirasi serta apa yang hendak diperjuangkan oleh
kaum buruh, tampaknya masih sangat jauh, seperti bumi dengan langit.
Pada pasca reformasi tahun 1998 kaum buruh maupun pekerja pernah mempunyai
nyali membentuk partai politik, meski semua keok karena salah kaprah cara
mengelolanya, toh tetap lebih baik dibanding sekarang --- setelah 20 tahun
Page 466 of 656.

