Page 102 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 SEPTEMBER 2019
P. 102
Para TKI di Korea Selatan bekerja pada sektor formal, dimana untuk Indonesia
hanya ada dua sektor yang bisa dimasuki, yakni manufaktur dan perikanan.
Diperkirakan ada sekitar 26 ribu TKI bekerja di pabrik UKM, seperti pabrik sepatu
dan kain. Pabrik jenis UKM ini ada sampai ke pelosok desa di Korea Selatan.
Sedang di sektor perikanan, yang masuk dalam sistem ini adalah yang bekerja
ditambak-tambak ikan dan kapal-kapal kecil dengan berat di bawah tiga ton.
Para TKI ini bekerja di Korea Selatan menggunakan visa E9. Mereka akan
mendapatkan kontrak kerja tiga tahun dan bisa diperpanjang 1 tahun 10 bulan.
Kontrak kerja ini dibuat langsung antara pemberi kerja dan pekerja.
Setelah 4 tahun 10 bulan, TKI tersebut harus pulang ke Indonesia. Namun dia
memiliki kesempatan sekali lagi untuk kembali ke Korea Selatan sebagai TKI.
Hampir 90 persen TKI di Korea Selatan adalah laki-laki karena mereka bekerja di
pabrik.
Umar berkomitmen ingin merubah perspektif dalam penanganan TKI, yakni
menjadikan TKI sebagai aset atau peluang sehingga setelah selesai bekerja di Korea
Selatan, para TKI itu bisa menjadi agen perubahan saat pulang ke Indonesia
dengan membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan.
"Secara berkelompok, mereka (TKI) mulai mencari ide setelah selesai kerja di Korea
Selatan mau buat apa ketika pulang ke Indonesia. Maka sekarang di KBRI dibuat
kelompok-kelompok belajar. Kami berikan bekal tambahan seperti manajemen
keuangan, pengetahuan mengenai perbankan, dan informasi sektor bisnis apa yang
sedang berkembang di Indonesia. Paling banyak pingin usaha kuliner dan buka
warung," kata Umar.
Menjawab hal tersebut, tim di KBRI Seoul, Korea Selatan, pun diantaranya
memberikan ilmu pengetahuan soal bagaimana mengelola sebuah warung.
Umar melihat, para TKI di Korea Selatan memiliki motivasi yang sangat bagus.
Umumnya para TKI itu terbang ke Korea Selatan pada usia 19 tahun atau setelah
lulus SMK. Umar sangat yakin, saat mereka pulang ke Indonesia mereka bisa
menjadi motor penggerak perubahan di desa masing-masing.
Page 101 of 151.

