Page 796 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 796

GUBERNUR TANGGAPI DEMO BURUH SUMSEL TUNTUT KENAIKAN UPAH 10%

              Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Herman Deru angkat bicara soal tuntutan para buruh yang
              tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja/Buruh saat unjuk rasa di Halaman Kantor Gubernur
              Sumsel, Selasa (30/11). Buruh di Bumi Sriwijaya menuntut kenaikan upah sekitar 7 hingga 10
              persen. Menurut Deru, tuntutan buruh untuk kenaikan upah tersebut tidak dapat diputus hanya
              seorang gubernur saja. Namun, dalam proses pengupahan pemerintah perlu melibatkan elemen
              buruh dan pengusaha dalam mengambil keputusan yang dianggap menjadi solusi bersama.

              “Jadi,  kita  akan  pelajari  dari  sekian  banyak  tuntutannya.  Inikan  ada  kementerian  yang
              membidangi. Kita akan diskusikan lagi bahwa persoalan di Sumsel ini, tuntutannya begini. Kalau
              sebagian tuntutan bisa diakomodir akan kita akomodir,” ujarnya.

              Selain itu, lanjutnya, yang disampaikan tadi ada beberapa persoalan terkait dengan daerah di
              dalam Peraturan Pemerintah (PP) termasuk yang sudah menetapkan UMP untuk di provinsi dan
              kabupaten dan kota. Bagi kabupaten dan kota yang belum karena memang belum ada usulan.
              Hal itu dikarenakan masih menunggu petunjuk khusus setelah keputusan MK, artinya kebijakan
              yang bersifat strategis agar ditunda dulu.

              “Kami akan diskusi secara khusus dulu atas pengajuan dari buruh ini. Selama ini juga belum
              ditetapkan di kabupaten dan kota saya pikir masih memakai aturan yang diberlakukan kemarin,”
              katanya. Di sisi lain, pemerintah provinsi setempat menyambut baik atas apa yang dilakukan
              para buruh dalam menyampaikan aspirasinya.

              “Ya, cara-cara yang dilakukan buruh di Indonesia, khususnya di Sumsel ini adalah cara-cara yang
              sangat terhormat. Ini merupkan langkah bagus bagi kita, paling tidak kami dapat lebih mudah
              dan tenang dalam menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

              Bukan itu saja, sambungnya, kedatangan para buruh ini sebagai respresentasi dari keinginan
              buruh  untuk  membuat  penetapan  yang  berpihak  kepada  semua.  Artinya,  tidak  ada  yang
              dirugikan termasuk kaum buruh.

              “Sebenarnya kami ingin kesejahteraan buruh itu diawali perbaikan-perbaikan hak-haknya. Jadi,
              bukan hanya sekader ukuran UMR dan UMP saja, tapi hak lainnya juga,” katanya.

              Sementara itu, Ketua Federasi Serikat Buruh (FSB) Niaga, Informatika, Keuangan, Perbankan
              dan Aneka industri (Nikeuba) Kota Palembang, Hermawan menyampaikan beberapa hak bagi
              para buruh kepada Gubernur Sumsel.

              “Kami datang ke sini mau mengingatkan pak gubernur, jadi upah minimum sudah ditetapkan
              dan  kami  mohon direvisi.  Kemudian yang kedua  adalah  upah  minimum kabupaten  dan  kota
              jangan ditetapkan,” katanya.

              Adapun sejumlah tuntutan yang sampaikan kepada Gubernur Sumsel, di antaranya menuntut
              pelaksanaan putusaan MK Nomor: 91/PUU-XVIII/2020 tanggal 25 November 2021.

              Pertama, menuntut revisi kenaikan UMP Sumsel tahun 2022 dan kenaikan UM Kabupaten/Kota
              se-Sumsel  berdasarkan  Putusan  MK  nomor  91/PUU-XVIII/2020  tanggal  25  November  2021,
              dengan kenaikan upah minimun berdasarkan UU 13/2003 tentang ketenagarkerjaan.

              Kemudian,  menuntut  dicabutnya  UU  Nomor  11  tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  dan  seluruh
              peraturan pelaksananya yang telah dinyatakan inskonstitusional bersyarat.
              Terakhir, menuntut gubernur, serta bupati dan wali kota di Sumsel untuk memberikan subsidi
              kepada pekerja ataupun buruh formal maupun informal sebesar Rp300 ribu per bulannya.


                                                           795
   791   792   793   794   795   796   797   798   799   800   801