Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 04 FEBRUARI 2019
P. 75
Menurut dia, lapangan kerja yang terserap beragam. Mulai sektor formal maupun
informal. Baik itu pertanian, industri pengolahan, perdagangan, ritel dan lain-lain. Ini
capaian yang harus dilihat secara jernih dan objetif agar dapat didorong.
Saat ini, diakui Hanif, tantangan terbesar adalah menciptakan sumber daya manusia
(SDM). Sehingga, pelatihan ini cukup penting. "Karena angkatan kerja kita saat ini
131 juta, tapi 58 persen lulusan SD/SMP. Pengertian lulusan SD/SMP itu ada empat.
Lulus SD, tidak lulus, lulus SMP, tidak lulus," terangnya.
Misalnya, kata Hanif, gubernur atau bupati membuat kebijakan. Ada investasi masuk
dan diwajidbkan merekrut warga lokal sebanyak 70 persen. Itu dibenarkan.
Pemerintah punya itikad baik. Tapi kalau warganya lulusan SD/SMP, maka itu menjadi
masalah.
Menurut dia, bukan membatasi investasi. Tapi mengajak perusahaan bekerja sama
dengan pemda untuk berinvestasi SDM. Anak-anak muda dilatih. "Kalau mereka
punya skill, silahkan rekrut untuk dipekerjakan di perusahaan. Sebab jika kita
wajibkan sesuatu tapi SDM tidak mendukung, ini masalah," ujarnya.
Hanif menjelaskan, Indonesia punya kualitas. Namun soal kuantitas, jumlah menjadi
persoalan. Contohnya seperti kasus di Morowali. Perusahaan mencari 2000 sopir
truck. Syaratnya hanya SIM B2. Namun yang memenuhi hanya 8 orang. Akhirnya,
syaratnya diturunkan hingga SIM B1. Bahkan hingga meniadakan syarat. Yang
penting dapat mengoperasionalkan truck.
"Datang coba-coba, truknya nabrak-nabrak. Diambil dari Jawa, tapi tidak semua mau
ke Morowali. Katanya daerahnya jauh. Akhirnya 2000 pun tidak terpenuhi. Begitu diisi
orang asing, marah. Jadi maunya bagaimana," beber Hanif.
Page 74 of 136.

