Page 283 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 DESEMBER 2021
P. 283

Saat  ini,  Pemprov  DKI  masih  menunggu  jawaban  surat  yang  dikirim  tersebut.  Diharap  ada
              respons baik dari Kemenaker.
              "Kami berharap formulanya diperbaiki, direvisi. Namun sekarang kan kewenangannya langsung
              di kementerian di pusat, bukan di kami," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria di
              Balai Kota Jakarta, Jumat (10/12).

              Menurut Riza, pemerintah pusat juga memiliki banyak pertimbangan yang harus semua pihak
              dengarkan juga. Namun ia menjamin pemerintah memahami apa yang menjadi keinginan buruh,
              para pengusaha, dan juga kepentingan masyarakat Jakarta.

              Setiap kebijakan ada batasan dan aturannya masing-masing. Pemprov DKI harus patuh dengan
              regulasinya dan aturan yang harus dipatuhi, di antaranya PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang
              Pengupahan.

              "Kami harus patuhi, selama PP-nya belum dirubah kami tidak boleh melanggar, kita kan harus
              patuh dan taat terhadap aturan. Regulasinya begitu dan memang kta harus menunggu perbaiki
              dari regulasi itu," tuturnya.

              Sebelumnya,  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  menyatakan  jutaan  buruh  akan
              melakukan aksi mogok kerja nasional jika tuntutan tidak dikabulkan, salah satunya merevisi Surat
              Keputusan (SK) Gubernur tentang Penetapan UMP 2021.

              Hal itu dikatakan Presiden KSPI Said Iqbal dalam aksi unjuk rasa gabungan yang merupakan
              rangkaian aksi buruh pada 6-10 Desember 2021.

              "Kami bisa melakukan 2 juta buruh stop produksi, semua akan rugi, ekonomi akan lumpuh. Kami
              tidak akan melakukan itu bilamana pemerintah sungguh-sungguh menjalankan keputusan MK
              dan SK Gubernur," kata Said di Bundaran Patung Kuda, Jakarta, Rabu (8/12).
              Said menjelaskan bahwa eskalasi aksi akan meningkat jika Pemerintah Pusat tidak menjalankan
              keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 11
              Tahun 2020 tentang Cipta Kerja inkonstitusional secara bersyarat.

              Omnibus  law  UU  11/2020  Cipta  Kerja  dinyatakan  inkonstitusional  atau  bertentangan  dengan
              UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

              MK pun memerintahkan DPR dan pemerintah memperbaiki UU Cipta Kerja dalam jangka waktu
              2 tahun ke depan.

              "Gerakan mogok nasional menjadi pilihan bilamana dalam proses menuju paling lama dua tahun
              dari awal pembentukan UU Cipta Kerja yang baru ini tetap mengabaikan partisipasi publik," kata
              Said. (Asp).



















                                                           282
   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287   288