Page 126 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 DESEMBER 2019
P. 126
Dengan migrant shop, transaksi jual beli produk purna pekerja migran Indonesia
(PMI) menjadi mudah dilakukan. Hal itu juga dianggap kekinian karena hadir di
tengah merebaknya jual beli secara digital.
"Warung Online migrant shop bukan hanya menciptakan produk tetapi kita juga
menciptakan pasar online. Aplikasinya dari Politeknik Negeri Indramayu (Polindra),"
kata pegiat migran Darwinah, Jumat (06/12/2019).
Menurutnya, dengan hadirnya migrant shop tersebut semakin meyakinkan purna
PMI lebih memilih tak lagi bekerja ke luar negeri. Sebaliknya, mereka mantap untuk
berwirausaha yang sudah pasti lebih dekat dengan keluarga.
"Bekerja menjadi wirausaha, mereka bisa mendapat penghasilan lebih dari saat
mereka kerja di luar negeri," tegasnya.
Sebagai penggagas migrant shop, ia menjelaskan peluncuran tersebut bertujuan
agar pelaku UMKM para purna dan keluarga PMI tidak ketinggalan zaman dan tidak
gagap teknologi di era digital. Diharapkan, Indramayu tak lagi menjadi pengirim PMI
ke luar negeri.
"Ini adalah proses bagaimana kita bisa meminimalisir agar berangkat di luar negeri
itu bisa berkurang, sehingga yang kita kirim itu produknya, produk unggulan,"
tegasnya.
Ia memahami perjuangan purna PMI untuk bisa mandiri di negeri sendiri agar tidak
lagi berangkat kerja ke luar negeri. Karena itu, warung online merupakan salah satu
yang menjawab persoalan itu dan dapat menghidupi keluarga purna PMI.
"Itu mereka omzetnya sekitar Rp 10-15 juta per bulan. Itu bisa membuktikan
bahwa mereka bisa save (nabung) gitu ya uangnya di Indonesia tanpa harus
meninggalkan anak sama suaminya," terangnya.
Ia berharap peluncuran warung online pertama di Indonesia bagi purna PMI itu
dapat menjadi proyek percontohan yang sangat bermanfaat bagi para perempuan
Indonesia. Dengan demikian, tidak perlu ke luar negeri untuk mencari pendapatan.
"Dengan mereka bekerja di sini, mereka bisa menghasilkan uang, bisa kumpul
dengan anak sama suaminya," kata perempuan yang juga Ketua Koperasi Keluarga
Migran Indonesia itu.
Kepala Disnaker Kabupaten Indramayu Hj. Sri Wulaningsih mengapresiasi hadirnya
migrant shop. Ia mengatakan hal itu merupakan buah ide positif dari pendamping
desa migran produktif (desmigratif). Pasalnya, gagasan tersebut telah mengikuti
perkembangan teknologi informasi yang ada saat ini.
"Mudah-mudahan, ini bisa dikembangkan kepada desmigratif yang lain," harapnya.
Page 125 of 150.

