Page 76 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JANUARI 2020
P. 76

Global  Union,  dan  Wakil  Ketua  dari  unsur pekerja/buruh  di  Lembaga  Kerja  Sama
               Tripartit Nasional (2016 - 2019).

               Menurut  Rusdi,  PHK  sepihak  terhadap  Mirah  oleh  Direksi  PT  JLJ,  tanpa  pernah
               dilakukan perundingan bipartit, mediasi, dan tanpa penetapan pengadilan

               "PHK sepihak tanpa penetapan pengadilan, adalah melanggar UU Ketenagakerjan
               dan UU PPHI, karenanya batal demi hukum," kata Rusdi lewat keterangan resmi yang
               diterima suara.com, Minggu (19/1/2020).

               Mirah  telah  berserikat  sebagai Presiden  SK  JLJ  sejak  tahun  2008  dan  tanpa ada
               permasalahan  dari  manajemen,  lantaran  ketika  itu  manajemen  masih  menghargai
               aktivitas berserikat.

               Aktivitas  berserikat  Mirah  justru  mulai  dipermasalahkan  oleh  Manajemen  PT  JLJ,
               sejak Mirah Sumirat bersama ASPEK Indonesia pada September 2017, melakukan
               penolakan terhadap kebijakan Pemerintah yang akan menerapkan 100% Gardu Tol
               Otomatis (GTO) di seluruh jalan tol.

               Kemudian,  pada  30  Oktober  2017,  Mirah  diberikan  Surat  Peringatan  I  karena
               dianggap  tidak  melaksanakan  pekerjaan  Padahal,  selama  ini  Mirah  disebut  telah
               menjalankan tugas dan fungsi sebagai Pengurus Serikat Pekerja

               "Tanggal 12 Maret 2018, Mirah Sumirat diberikan Surat Peringatan II karena alasan
               tidak mengikuti Medical Check Up. Padahal dalam PKB tidak ada ketentuan sanksi
               bagi pekerja yang tidak mengikuti Medical Check Up. Setelah Surat Peringatan I dan
               II, Mirah Sumirat tidak pernah diberikan Surat Peringatan III, Surat Skorsing, Surat
               Konseling, dan Surat Pemutusan Hubungan Kerja," ujarnya.

               Berkenaan dengan itu, Rusdi mengungkapkan bahwa PHK sepihak terhadap Mirah
               dilakukan hanya dengan Surat Keputusan Direksi PT JLJ No. 119/KPTS-JLJ/IV/2019
               tertanggal  18  April  2019  tentang  PHK.  Surat  keputusan  itupun  menurutnya  tidak
               pernah diberikan oleh Manajemen PT JLJ kepada Mirah.

               "Oleh karena itu, PHK sepihak yang dilakukan oleh Direksi PT JLJ terhadap Mirah
               Sumirat,  patut  diduga  sebagai  tindakan  pemberangusan  serikat  pekerja  (union
               busting), yang melanggar hak kebebasan berserikat sebagaimana telah dijamin UU
               SP/SB," kata Rusdi.

               Atas hal itu, Rusdi pun menyampaikan bahwa dalam aksi unjuk rasa di depan Kantor
               Pusat PT Jasa Marga, ASPEK Indonesia dan KSPI menuntut hal-hal sebagai berikut:

                1.  Cabut Surat Keputusan Direksi PT JLJ No. 119/KPTS-JLJ/IV/2019 tertanggal 18
                    April 2019 tentang PHK dan pekerjakan kembali Mirah Sumirat.

                2.  Menolak 'program penugasan paksa' kepada pekerja tetap PT JLJ untuk bekerja
                    di perusahaan lain (PT. Hutama Karya, dll) yang dilakukan oleh manajemen PT
                    JLJ secara perintah lisan dan tanpa adanya surat tugas, tanpa kepastian jangka
                    waktu penugasan dan tanpa jaminan keberlanjutan pekerjaan di PT JLJ.



                                                       Page 75 of 267.
   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81