Page 234 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 OKTOBER 2021
P. 234

SOAL PENETAPAN UMR 2022, KADIN: BURUH JANGAN MENUNTUT BERLEBIHAN

              JAKARTA - Rencana penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Regional
              (UMR)  tahun  2022  menjadi  perhatian  berbagai  pihak.  Sejumlah  serikat  pekerja  di  berbagai
              daerah  bahkan  ada  yang  mendesak  agar  UMR  tahun  depan  naik  signifikan  atau  10  persen
              dibanding tahun lalu.

              Hal itu karena berdasarkan survei kebutuhan hidup layak (KHL) selama pandemi mengalami
              peningkatan, baik untuk pembelian masker, vitamin, maupun handsanitizer. Menyikapi hal itu
              Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia angkat bicara.

              Wakil  Ketua  Umum  Bidang  Pengembangan  Otonomi  Daerah  Kadin  Sarman  Simanjorang
              mengatakan, soal tuntutan kenaikan UMP tahun depan turut menjadi perhatian pelaku usaha di
              tengah pemulihan ekonomi nasional. Namun demikian, ia berharap para serikat pekerja tidak
              menuntut secara berlebihan atau di luar kemampuan dunia usaha.

              "Serikat  pekerja  atau  buruh  jangan  sampai  menuntut  berlebihan  di  luar  kemampuan  dunia
              usaha. Dalam kondisi seperti ini saling pengertian sangat dibutuhkan, jangan sampai pelaku
              usaha tertekan akibat permintaan kenaikan UMP yang berlebihan," ujarnya dilansir dari laman
              SPN, Kamis (28/10/2021).

              Selain  itu,  pihaknya  juga  mengingatkan  bahwa  formulasi  penetapan  UMP/UMR  sudah  diatur
              dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan sebagai turunan
              Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Oleh  karena  itu,  selama  tuntutan  kenaikan  UMP/UMR  didasarkan  dengan  aturan  tersebut
              tentunya para pengusaha akan bersedia untuk mengupayakannya.

              "Adanya isu yang menyatakan UMP akan ada kenaikan dari tahun lalu sejauh rumusnya dan
              dasarnya jelas sesuai PP Nomor 36 tahun 2021, pengusaha akan dapat menyesuaikan sesuai
              kemampuan," ungkapnya.

              Terpisah, serikat pekerja atau buruh di Jawa Tengah berharap pemerintah tidak menggunakan
              aturan baku dalam penetapan UMP/UMR 2022.

              "Kalau mengacu pada aturan baku itu, kenaikan UMP akan ditentukan berdasarkan pertumbuhan
              ekonomi dan inflasi. Kalau seperti itu, jelas kita tidak akan mengalami kenaikan yang signifikan.
              Apalagi, pertumbuhan ekonomi kan mengalami kontraksi. Kalau pun naik, prediksi kami sekitar
              1-2 persen. Itu enggak sesuai bagi buruh memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," terang Ketua
              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jateng, Aulia Hakim seperti dikutip dari Solopos.

              Oleh karena itu, dalam penetapan upah tahun depan tersebut mereka berharap survei KHL yang
              dijadikan  acuan.  Alasannya,  karena  selama  pandemi  berlangsung  kebutuhan  para  buruh
              meningkat, seperti harus beli masker, vitamin, handsanitizer dan lainnya.

              "Itu harapan kami [UMP naik 10 persen]. Kenaikan 10 persen sesuai dengan survei KHL yang
              telah kita lakukan, sesuai dengan kebutuhan para buruh, terutama selama masa pandemi ini.
              Pada  masa  pandemi  ini  kan  kebutuhan  buruh  juga  mengalami  kenaikan,  harus  beli  masker,
              handsanitizer, dan juga vitamin. Makanya, kami berharap pemerintah memenuhi tuntutan kami,"
              harapnya.







                                                           233
   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238   239