Page 504 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 504

memperoleh  manfaat  yang  sebesar-besarnya.  Prinsip  tersebut  dilakukan  pemerintah  dalam
              upaya memenuhi program JHT di tengah peningkatan jumlah perusahaan yang merugi dan PHK
              yang meningkat.

              "Besarnya manfaat JHT ditentukan berdasarkan akumulasi iuran yang telah disetorkan ditambah
              hasil pengembangannya," ujar Ida Fauziyah, Jakarta, Selasa (16/11).

              Ida menjelaskan sesuai PP Nomor 46 Tahun 2015 pasal 22 disebutkan manfaat sebagian dapat
              diberikan  apabila  peserta  telah  memiliki  kepesertaan  10  tahun  untuk  mempersiapkan  masa
              pensiun dan paling banyak 30 persen dari jumlah JHT untuk kepemilikan perumahan, 10 persen
              untuk keperluan lain dengan sumber dana dari individual account.

              Berdasarkan pasal 25 dinyatakan peserta JHT juga memperoleh MLT berupa fasilitas pembiayaan
              perumahan  dan/atau  manfaat  lain  dengan  pembiayaan  dari  dana  investasi  JHT.  Besaran
              pembiayaan diatur dalam PP Nomor 25 Tahun 2015.

              "Pasal  32  menyatakan  hak  atas  JHT  sebagaimana  diatur  dalam  PP  ini  tidak  dapat
              dipindahtangankan, digadaikan, atau disita sebagai pelaksana putusan pengadilan," katanya.

              Untuk  itu,  pihaknya  siap  melaksanakan  Inpres  Nomor  2  Tahun  2021  tentang  optimalisasi
              pelaksanaan  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja  (Jamsostek).  Antara  lain,  pertama,  evaluasi,
              pengkajian, dan penyempurnaan regulasi program Jamsosnaker.

              Kedua, meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan kepatuhan kepada pemberi kerja terhadap
              program Jamsosnaker. Ketiga, memastikan pemohon pengurusan maupun perpanjangan izin di
              bidang ketenagakerjaan merupakan peserta aktif dalam program Jamsosnaker.

              Keempat,  melakukan  deseminasi  dan  pelayanan  pendaftaran  serta  pembayaran  program
              Jamsosnaker  bagi  Pekerja  Migran  Indonesia.  Kelima,  mendorong  peserta  pelatihan  vokasi
              menjadi peserta aktif dalam program Jamsosnaker.

              Sesuai Inpres Nomor 2 Tahun 2021, para Gubernur, Bupati/Wali Kota diminta menyusun dan
              menetapkan  regulasi  serta  mengalokasikan  anggaran  untuk  mendukung  pelaksanaan
              Jamsosnaker di wilayahnya. Kedua, mengambil langkah-langkah agar pekerja penerima upah
              (PU) maupun pekerja bukan penerima upah (BPU), termasuk Non ASN, pekerja penyelenggara
              Pemilu terdaftar sebagai peserta aktif dalam program Jamsosnaker.

              Ketiga, kepada Pemda provinsi agar meningkatkan pembinaan dan pengawasan dalam rangka
              meningkatkan kepatuhan pelaksanaan program Jamsosnaker. Keempat, melakukan upaya agar
              seluruh Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) mensyarakan kepesertaan aktif dalam program
              Jamsosnaker sebagai salah satu syarat kelengkapan dokumen perizinan.

              Dirut BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo menegaskan kasus klaim JHT Agustus 2021
              sebesar 1,74 juta, masih di bawah jumlah kasus Desember 2020 total sebesar 2,52 juta. "Jadi
              kalau secara rerata yang mengajukan klaim per bulan mengalami penurunan. Ini kabar baiknya,
              karena berarti sudah safe and clean. Secara nominal dan jumlah klaim juga sudah menurun,"
              ujar Anggoro Eko Cahyo.

              Anggoro menambahkan nominal klaim JHT Agustus 2021 yang dibayarkan sebesar Rp 26,13
              triliun dibandingkan nominal klaim JHT Desember 2020 sebesar Rp 32,56 triliun. Angka tersebut
              pun mengalami penurunan.

              Sedangkan rasio nominal klaim dibandingkan iuran JHT, pada masa pandemi September 2020-
              Septermber 2021 tertinggi sebesar 70 persen. Posisi terakhir total iuran yang diterima September
              2021, senilai Rp37triliun dan nominal yang dibayarkan sebesar Rp26 triliun.

                                                           503
   499   500   501   502   503   504   505   506   507   508   509