Page 149 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 APRIL 2020
P. 149

minggu. Habis waktu dan khawatir kenapa-kenapa jadi mending saya bekerja," tutur
               Eni saat bercerita kepada  CNNIndonesia.com  pada Selasa (14/4).


               Eni bersyukur selama situasi darurat Covid-19 berlangsung, majikan masih sanggup
               mempekerjakannya. Sebab, ia mendengar cukup banyak PHK terjadi, termasuk yang
               dialami teman-temannya sesama pekerja migran.

               Meski begitu, Eni harus rela bekerja lembur hampir setiap hari lantaran sang
               majikan sekarang berada di rumah selama 24 jam setiap hari. Belum lagi muncul
               banyak permintaan dari majikan.


               Ia menuturkan majikan jadi menuntut untuk lebih sering membersihkan ruangan
               dan barang-barang menggunakan cairan desinfektan yang tak jarang menimbulkan
               bau menyengat.


               Foto: CNN Indonesia/Fajrian  "Saat ini saya dan banyak teman-teman kerja bisa
               hingga 16-18 jam sehari non-stop berdiri sana-sini. Belum lagi ketika libur pada hari
               Minggu ada majikan yang juga kasih beberapa pekerjaan. Jadi rasanya tidak pernah
               libur," kata Eni.

               "Rasanya badan mau buntung belum lagi tidur hanya bisa 4-6 jam setiap hari. Di
               hari libur pun kami tidak segan dipakai berleha-leha di kamar karena kan ada
               majikan," ujarnya menambahkan.

               Eni mengatakan tak masalah jika harus bekerja lembur jika upahnya juga
               disesuaikan. Sayangnya, sang majikan tidak memberinya uang tambahan.


               Bahkan di saat wabah seperti ini, majikan juga tidak memberi santunan apa-apa
               terkait kebutuhan alat kesehatan seperti masker dan sarung tangan.

               "Tidak ada santunan apa pun, tok gaji saja belum lagi sekarang kan mesti beli
               masker yang di sini itu harganya per boks bisa Rp300-400 ribu dan makanan ekstra
               seperti vitamin. Saat ini kan kami bukan hanya berjuang untuk hidup, tapi juga
               selamat," ujar Eni mengeluh.

               Ancaman PHK  Selain jam kerja yang bertambah, ancaman PHK juga sedikit banyak
               menghantui para TKI di Hong Kong.

               Nurhalimah misalnya. Perempuan yang telah bekerja sejak 2001 lalu di Hong Kong
               itu mengaku was-was jika situasi tak kunjung membaik, maka pekerjaannya akan
               terancam.

               Nurhalimah juga merasa pekerjaan semakin berat setiap hari lantaran semua
               keluarga majikan berada di rumah setiap hari. Otomatis, permintaan untuk
               memasak, bersih-bersih, hingga bepergian membeli kebutuhan lebih banyak lagi.

               "Saya khawatir banyak (TKI) yang jadi depresi karena tekanan pekerjaan hingga
               ancaman keamanan pekerjaan karena kan beberapa majikan sudah mulai sepi
               pekerjaannya bahkan hingga di-PHK, meski para TKI masih bekerja dan digaji tapi



                                                      Page 148 of 219.
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154